BAB 5
Membangun paradigm
entrepreneurship
5.1. Pengertian Paradigma Entrepreneur
Setiap
orang ketika memutuskan untuk bekerja dalam profesi tertentu selalu dipengaruhi
oleh cara pandang yang dimilikinya. Misalnya ada yang ingin memiliki kelimpahan
uang kemudian mendorongnya untuk menemukan dan melakukan pekerjaan yang cocok
dengan cara pandang. Menjadi
entrepreneur juga tidak dapat dipisahkan dengan paradigma. Paradigma entrepreneurship adalah cara pandang visi terhadap realitas
dari sutu usaha yang berisi sikap dan
nilai serta perilaku uasaha. Paradigma ini bisa direalisasikan dalam usaha
bila didukung pula dengan pengetahuan dan keterampilan teknis administrasi dan
manajerial. [1]
5.2.
Paradigma Entrepreneur
Seorang entrepreneur perlu mengenal diri sendiri,
membangun sikap mental (mindset) entrepreneur. Paradigma entrepreneur seorang
entrepreneur adalah visi seorang entrepreneur terhadap realitas. Ada banyak
realitas yang dihadapi manusia, khususnya realitas sosial yang sering
mendatangkan tantangan atau kesulitan. Terhadap realitas seperti ini, seorang
entrepreneur tertantang menemukan visi untuk mengatasi tantangan tersebut. Visi
seorang entrepreneur adalah dambaan atau cita-cita seorang entrepreneur di masa
mendatang berupa kondisi yang lebih baik dan dapat dicapai. Untuk bisa mencapai
visi maka diperlukan norma, system nilai, dan keyakinan yang akan menjadi
landasan berperilaku. Visi atau tujuan
hidup manusia bermacam-macam. Ada yang ingin mnjadi entrepreneur yang sukses,
ada yang ingin menjadi pendidik yang sukses, dll[2].
Visi seorang entrepreneur merupakan visi (tujuan)
yang terukur, maksudnya visi tersebut dapat direalisasikan dalam tahapan waktu.
Untuk itu maka dalam menentukan visi (tujuan),
5.3. Tiga elemen penting
dalam menetapkan paradigma entrepreneur
Seorang entrepreneur
perlu mempertimbangkan tiga hal/elemen penting dalam dalam menetapkan visi/tujuan hidup, yakni:
a. Ingin
menjadi apa
b. Ingin
melakukan apa
c. Ingin
memiliki apa
Tiga elemen penting dalam penetapan visi atau tujuan
seorang entrepreneur Kristen searah dengan apa yang dinyatakan dalam Alkitab,
yaitu Allah menempatkan manusia di dunia dengan tujuan yang telah dirancang
Allah. Bila merujuk pada Kejadian 2:15 maka jelaslah bahwa Allah menemptakan
manusia di Eden dengan tiga elemen di atas: menjadi apa, melakukan apa dan
memiliki apa. Penulis Injil Matius ketika memaparkan doa Bapa Kami yang
didalamnya mengandung salah satu kehendak Tuhan yaitu agar manusia terjamin
ekonominya: makanan yang secukupnya atau rejeki yang secukupnya. Untuk mencapai
maksud ini perlu kerja keras.
Jadi kebenaran prinsip: ingin menjadi apa, ingin
melakukan apa, ingin memiliki apa tidak bertentangan sepanjang masih dalam
control firman-Nya. Maksudnya tiga elemen tersebut dalam praktiknya tidak dapat
dipisahkan dari maksud Allah sebagaimana yang disaksikan dalam firman-Nya.
Prinsip ingin menjadi apa tidak
bertentangan sepanjang menjadi apa tidak bertentangan dengan firman-Nya, dengan
maksud yang sama berlaku untuk prinisp ingin
melakukan apa, keinginan yang sesuai firman-Nya pastilah keinginan yang
baik. Ingin melakukan apa harus bersesuaian dengan firman Tuhan. Demikian juga
prinsip memiliki apa sepanjang
bersesuaian dengan firman-Nya. Tiga prinsip ini saling berkorelasi satu dengan
yang lainnya. Dengan demikian seorang entrepreneur Kristen yang bervisi ingin menjadi apa akan mempengaruhi
usahanya yakni melakukan apa yang berdampak pada memiliki apa dalam bidang financial dan kehidupan rohani.
Selain
visi di atas, ada tiga nilai yang perlu dipertimbangkan dalam menetapkan
tujuan, yakni: [3]
a. Nilai
yang berorientasi kemajuan (teknologi) atau berwawasan modern.
b. Nilai
yang berorientasi materi dan non materi, meskipun tidak menolak uang
c. Orientasi
mutu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar