Senin, 27 Februari 2017

Menjual Ebook mata kuliah entrepreneur


Materi ENtrepreneur layak diajarkan di Sekolah Tinggi Teologi. Namun realitas menunjukkan bahwa sedikit buku bernuansa kajian Kristiani tentang entrepreneur. Oleh karena itu kami telah membuat bahan ajar entrepreneur yang dapat dipakai untuk mengajar materi ini di Sekolah Tinggi Teologi di Indonesia. Dalam ebook yang kami tawarkan lengkap dengan:

1. Kontrak Pembelajaran (Mengikuti Pola AA)
2. Silabus
3. RPP untuk 14 sampai 16 kali pertemuan

Berikut ebook yang tersedia untuk dibeli:

1. ebook MK. Entrepreneur
2. ebook MK. Metodologi Penelitian
3. ebook MK. Sejarah Gereja Umum
4. ebook MK. Sejarah Gereja Indonesia
5. ebook MK. Sejarah Gereja Asia
6. ebook MK. Filsafat Apologetika
7. ebook MK. Kurikulum PAK
8. ebook MK. PAK Dalam Masyarakat Majemuk
9. ebook MK. STrategi Pembelajaran PAK

Harga 1 ebook = Rp 100.000,00 x 9 ebook = Rp 900.000,00

Bagi yang berminat dapat menghubungi kami di: 081388662585 atau via email: logiyangberbuah@gmail.com

Selasa, 22 November 2016

Tugas Tutorial

Mahasiswa STT IKSM Santosa Asih yang menempuh Tutorial untuk mata kuliah Entrepreneur atau Kewirausahaan dapat mengerjakan tugas berikut ini. Setelah itu berdialog dengan dosen mata kuliah secara tatap muka atau online via kolom komentar weblog. Berikut tugas Tutorial.

1. Membuat Kontrak dan Silabus Entrepreneur
2. RPP Entrepreneur
3. Menyusun Bahan Ajar Entrepreneur Berdasarkan Silabus yang dibuat oleh Anda

Selamat bekerja

Salam

Yonas Muanley

Selasa, 25 Oktober 2016

Standar Kompetensi

Standar Kompetensi (Tujuan Akhir Mempelajari Mata Kuliah Entrepreneur).

Setelah mengikuti mata kuliah entrepreneurship mahasiswa mampu merekonstruksi teori-teori entrepreneurship yang memadai secara ekonomis dan rohani (iman Kristen) dan menerapkan semangat entrepreneurship dalam pelayanan kepemimpinan Kristen di gereja, sekolah dan masyarakat (atau mahasiswa mampu menciptakan peluang untuk mengatasi masalah dalam masyarakat)

Daftar Isi

Kompetensi Dasar 1

Kompetensi Dasar 2

Kompetensi Dasar 3

Kompetensi Dasar 4

Kompetensi Dasar 5

Kompetensi Dasar 6

Kompetensi Dasar 7

Pengertian Entrepreneur

Weblog Bahan Ajar Online Entrepreneur STT IKSM Santosa Asih Jakarta. Bahan dalam weblog ini memuat secara rinci beberapa pengertian kewirausaan atau entrepreneur, dabeberapa pokok bahasan entrepreneur. Jelasnya ada 7 Kompetensi Dasar. Cocok dipakai untuk bahan ajar atau refrensi karya ilmiah. Anda dapat mendownload seluruh bahan kewirausahaan atau Entrepreneur dalam weblog Dr. Yonas Muanley, M.Th.
Beberapa jam lalu saya kaget mengakses blog karena dihapus. Setelah sampai di rumah kemudian saya berusaha masuk ke dasbord blog dengan email yang dipakai untuk mengakses blog. Ternyata email juga sulit karena harus melakukan ferifikasi. Setelah saya lakukan ternyata saya bisa berhasil masuk ke dasbord blog. Hal ini menyadarkan saya bahwa Google sangat memperhatikan keamanan. Saya kemudian memperbaiki beberapa kode xml dari program publisher yang secara dobel berada di salah satu blog. Hasilnya blog saya kembali di akses lagi. TERIMAKASIH GOOGLE, GMAIL.COM dan BLOGSPOT.COM.Saya kembali mengakses email yang saya pakai yaitu gmail.com dan blog yang berbasis Blogspot.com.

Kini saya masuk ke refisi postingan tentang pengertian blog. Beberapa alamat dari sumber kutipan saya sengaja menghilangkan untuk menghindari sang pemalas yang kopi paste. Selanjutnya nama penulis buku yang berada dalam kurung, informasi sumber secara lengkap ada di bahan Ajar yang saya buat.

BAB 1 Pengertian Entrepreneur.

Secara etimologi, kata entrepreneur berasal dari bahasa Prancis, dalam bahasa Inggris entrepreneurship, dalam bahasa Belanda Unternehmer sedangkan dalam bahasa Jerman ondernemen, dalam bahasa Indonesia diterjemahkan kewirausahaan. Secara etimologi, kata entrepeneur berasal dari bahasa Prancis yaitu entreprende yang berarti petualang, pengambil resiko, kontraktor, pengusaha (orang yang mengusahakan suatu pekerjaan tertentu), dan pencipta yang menjual hasil ciptaannya (Endro, 2014:29)
Definisi dalam Kamus. Menurut kamus Miriam Webster, entrepreneur adalah seorang yang mengorganisir, mengelola dan memperhitungkan resiko dari sebuah usaha bisnis (S. Supriyanto, 2014:6)
Definisi Konseptual. Definisi ini biasanya diperoleh dari riset pustaka maupun penelitian lapangan. Berikut beberapa contoh definisi konseptual dari entrepreneur:

Pertama, entrepreneur adalah orang yang terampil memanfaatkan peluang dalam mengembangkan usahanya dengan tujuan untuk meningkatkan kehidupannya (H.M.Havidz Aima, dkk, 2015:6). Menurut definisi ini semua orang adalah entrepreneur/kewirausahaan/wirausaha dalam arti mampu berdiri sendiri dalam menjalankan usahanya dan pekerjaannya guna mencapai tujuan pribadinya, keluarganya, masyarakat, bangsa dan negaranya. Bila pengertian entrepreneur dipahami dalam definisi entrepreneur yang menekankan kemandirian maka seharusnya seseorang tidak harus bergantung pada orang lain. Namun faktanya, banyak orang yang tidak berkarya dan berkarsa untuk mencapai prestasi yang lebih baik untuk masa depannya, dan ia menjadi ketergantungan kepada orang lain (H.M.Havidz Aima, dkk, 2015:6)

Kedua, menurut Kasmir, entrepreneur adalah orang yang berjiwa berani mengambil resiko untuk membuka usaha dalam berbagai kesempatan. Berjiwa berani mengambil resiko artinya bermental mandiri dan berani memulai usaha, tanpa diliputi rasa takut atau cemas sekalipun dalam kondisi tidak pasti. (Kasmir, 2007 : 18).

Ketiga, menurut Richard Cantillon (1775), entrepreneurship (Kewirausahaan) didefinisikan sebagai bekerja sendiri (self-employment). Seorang wirausahawan membeli barang saat ini pada harga tertentu dan menjualnya pada masa yang akan datang dengan harga tidak menentu. Jadi definisi ini lebih menekankan pada bagaimana seseorang menghadapi resiko atau ketidakpastian

Keempat, entrepreneurship adalah suatu usaha yang kreatif, membangun suatu nilai dari yang belum ada menjadi ada, dan bisa dinikmati oleh orang banyak (Endro, 2014:30).
Kelima, menurut Ciputra, entrepreneur adalah seorang yang inovatif dan mampu mewujudkan cita-cita kreatifnya ke dunia nyata. Entrepreneur akan mampu mengubah padang ilalang menjadi kota baru, atau mengubah tempat pembuangan sampah menjadi resor yang indah. Entrepreneur bisa mengubah kawasan kumuh menjadi gedung pencakar langit tempat ribuan orang bekerja dan beraktivitas. Entrepreneur adalah orang yang mampu merubah kotoran dan barang rongsokan menjadi emas (Maskur Anhari, 2014:68)

Keenam, entrepreneur adalah berpikir berbeda untuk menemukan ide-ide brilian. Semua itu membutuhkan kreativitas, inovasi yang benar-benar baru. Entrepeneur adalah profesi. Artinya bahwa setelah lulus sekolah atau kuliah ada opsi-opsi yang dibuat, yaitu mencari kerja (job seeker) atau menciptakan lapangan kerja (entrepeneur). Jika seseorang memilih menjadi pekerja (employee) atau berwirausaha, ia harus bersikap profesional. Oleh karena itu, entrepeneur merupakan sebuah provesi, sebuah pilihan hidup yang harus dilakukan secara profesional (dalam arti jujur, terbuka, berkomitmen, konsisten, tepat janji, tanggung jawab, mengerti batas hak-haknya, mengerti etika profesi dan berdisiplin).

Entrepeneurship adalah naluri artinya untuk menjadi entrepeneur sukses membutuhkan naluri untuk menemukan sebuah peluang usaha yang akhirnya menjadi sebuah usaha yang sukses (Endro, 2014:30-32). Singkatnya Menurut B. Prihatin Dwi Riayanti, entrepreneur adalah orang yang mampu menciptakan kerja bagi orang lain ( B. Prihatin Dwi Riayanti,2003:25)
Merujuk pada definisi di atas, entrepreneur tidak hanya sebatas pada perusahan tetapi entrepreneur dapat dilakukan (diwujudkan) melalui berbagai profesi seperti entrepreneur dalam bidang pendidikan, kedokteran, arsitektur, pekerjaan social, distribusi dan lain-lain (Muhammad Anwar, 2014:47). Penegasan ini memperjelas pemaham tentang entrepreneur dalam satu bidang tertentu. Dengan demikian di setiap bidang kehidupan manusia dapat dikembangkan kemampuan entrepreneur.
Dalam setiap bidang kehidupan manusia baik bersifat umum maupun keagamaan, setiap orang memiliki kemampuan dalam entrepreneur. Kemampuan entrepreneur yang dimaksud adalah kemampuan kreatif dan inovatif. Kreatif yaitu kemampuan untuk berpikir yang baru dan berbeda. Dalam hal ini kreativitas dalam konteks pembahasan entrepreneur adalah kemampuan menciptakan sesuatu yang asalnya tidak ada.
Pengertian kreatif juga meliputi hasil kerjasama masa kini untuk memperbaiki masa lalu dengan cara baru. Kratif diartikan pula dengan kemampuan menggantikan sesuatu dengan sesuatu yang lebih sederhana dan lebih baik.
Seorang entrepreneur memiliki kebiasaan berinisiatif akan melahirkan kreativitas (daya cipta) setelah itu melahirkan inovasi. Jadi entrepreneur adalah berpikir dan bertindak sesuatu yang baru atau berpikir sesuatu yang lama dengan cara-cara baru. Sedangkan inovatif yaitu inovatif adalah kemampuan untuk menerapkan kreativitas dalam rangka memecahkan persoalan-persoalan dan peluang untuk meningkatkan dan memperkaya kehidupan (H.M.Havidz Aima, 2015:12). Kreatif dan inovatif menjadi dasar bertindak dan daya penggerak untuk mencari peluang menuju kesuksesan. Inti dari entrepreneur adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda melalui berpikir kreatif dan bertindak inovatif untuk menciptakan peluang dalam menghadapi tantangan hidup. Pada hakekatnya entrepreneur adalah sifat, cirri, dan watak seseorang yang memiliki kemauan dalam mewujudkan gagasan inovatif kedalam dunia nyata secara kreatif. Entrepreneur atau wirausaha adalah mereka yang bisa menciptakan kerja bagi orang lain dengan berswadaya (H.M.Havidz Aima, 2015:7).

Mengenali potensi entrepreneur dalam diri seseorang

BAB 3
Mengenali Potensi Entrepreneurship dalam diri setiap orang: Setiap orang adalah entrepreneur 
2.1. Setiap orang adalah entrepreneur 
Frasa potensi dalam sub judul di atas dipakai dalam pengertian ada tidaknya jiwa entrepreneur dalam diri setiap orang Kristen. Bila tidak ada potensi atau kemampuan entrepreneur dalam diri orang Kristen maka kepemimpinan entrepreneurship Kristen yang akan dibahas tidak akan berguna, akan tetapi  bila ada potensi entrepreneur dalam diri setiap orang Kristen maka sangat relevan untuk meneliti tentang kepemimpinan entrepreneur Kristen.
Maksud yang terkandung dalam alinea di atas menegaskan bahwa pembahasan tentang entrepreneur menjadi demikian relevan. Untuk itu perlu landasan argumentasi untuk membuktikan bahwa ada potensi entrepreneur dalam diri setiap orang Kristen, khususnya warga jemaat. Dasar argumentasi bahwa setiap orang Kristen atau anggota jemaat memiliki potensi entrepreneur didasarkan pada dasar teologis dan teoritis yang dikemukakan sebagai berikut. 
Berdasarkan hasil studi etimologis dan berbagai definisi konseptual dari beberapa ahli tentang entrepreneur yang intinya menekankan tentang ”inovasi” dan ”kreativitas” sebagai ciri seorang entrepreneur maka dipastikan bahwa semua orang memiliki kemampuan entrepreneur.

2.2. Konfirmasi Teologis setiap orang adalah entrepreneur 
Konfirmasi teologis yang dimaksud disini yakni pengakuan secara teologis Kristen yang didasarkan pada kitab suci yaitu Alkitab meneguhkan bahwa manusia adalah ciptaan Tuhan yang segambar dan serupa dengan TUHAN Allah. Hal ini berarti bahwa jauh sebelum penggunaan kata entrepreneur yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan kata ”wirausaha”, Alkitab telah menegaskan bahwa Allah adalah sang entrepreneur yang memberi kemampuan entrepreneur dalam diri manusia yakni menciptakan manusia (Adam dan Hawa) segambar dan serupa dengan Allah (bnd. Kej. 1: 28).  Allah adalah sang entrepreneur utama dan pertama. Dikatakan demikian karena Allah menciptakan langit dan bumi dari yang tiada menjadi ada. Ia adalah pencipta, Inovator dan kreator. Oleh karena Allah adalah sang entrepreneur utama dan pertama maka Ia menciptakan manusia dengan kemampuan entrepreneur sebagaimana yang dapat dipahami dalam kata ”segambar” dan ”serupa”. Menurut William W. Menzies dan Stanley M. Horton, kata gambar (Ibr. tselem)  digunakan untuk patung dan model kerja. Jadi menurut kedua ahli ini, penggunaan kata gambar secara tidak langsung menyatakan bahwa di dalam diri manusia terdapat pencerminan sesuatu yang berkaitan dengan sifat dasar Allah. Sedangkan kata ”rupa” (Ibr. demuth) digunakan untuk pola, bentuk atau ukuran yang adalah sesuatu seperti Allah pada diri mereka. Kedua teolog di atas melanjutkan komentarnya dengan menyatakan bahwa Adam dan Hawa dicipta dalam kesempurnaan tetapi tetap ada perbedaan antara pencipta dan yang dicipta, manusia makhluk terbatas dan bergantung pada Allah. Gambar Allah dalam diri manusia terdiri atas gambar alamiah dan moral, dan bukan dalam arti segambar dalam pengertian fisik.[1]
Pendapat terakhir di atas juga didukung oleh teolog Paul Enns, menurutnya, gambar dan rupa merupakan istilah yang tidak menunjuk secara fisik karena Allah adalah Roh (bnd. Yoh. 4:24), menurut Enns, kata gambar dipakai dalam pengertian keserupaan dalam spiritual, natural dan moral. Dalam keserupaan manusia (Adam dan Hawa)  secara natural, menegaskan bahwa manusia memiliki akal budi, emosi, dan kehendak untuk mengetahui dan berkomunikasi dengan Allah.[2] Paul Enns mengutip pandangan E. Brunner yang menyatakan bahwa manusia adalah yang sama sekali berbeda dengn binatang. Perbedaan itu terletak pada rasio, kebebasan dan daya cipta manusia.[3] Oleh kemampuan rasio, kebebasan dan daya cipta yang ada pada manusia memampukan manusia untuk melakukan apa yang disebut dengan entrepreneur (kemampuan inovasi, kreasi dan kemampuan menangung resiko/berani menghadapi resiko sebagai ciri entrepreneur).
Seorang teolog Baptis, Millard J. Erickson, menyimpulkan pengertian manusia sebagai gambar dan rupa Allah dalam enam (6), salah satunya yang cocok dengan entreprenur adalah kesimpulannya tentang ”gambar Allah”  sebagai  kekuatan-kekuatan kepribadian yang menjadikan manusia, seperti halnya Allah, mampu berinteraksi dengan pribadi yang lain, mampu berpikir, dan merenung, serta berkehendak dengan bebas.” Gambar Allah adalah sejumlah kemampuan yang dibutuhkan untuk mewujudkan hubungan dan fungsi tersebut. Kemampuan-kemampuan tersebut adalah kemampuan-kemampuan Allah yang, ketika tercermin di dalam manusia, memungkinkan pemujaan, interaksi personal, serta pekerjaan dapat terlaksana”.[4] Kemampuan ini merupakan akibat atau penerapan dari gambar Allah. [5]
Pakar teolog yang lain seperti  James Montgomery Boice menyatakan, salah satu arti diciptakan menurut gambar Allah adalah Adam dan Hawa (Laki-laki dan perempuan) memiliki atribut-atribut kepribadian yang Allah sendiri miliki, tetapi yang binatang-binatang, tumbuh-tumbuhan dan materi tidak miliki. Untuk memiliki kepribadian, siapapun harus memiliki pengetahuan, perasaan (termasuk perasaan-perasaan religius) dan suatu kehendak. Allah memiliki kepribadian, demikianlah juga manusia.[6]
Berdasarkan kemampuan ini, Allah menugaskan manusia pertam, Adam dan Hawa untuk ”mengusahakan” dan ”memelihara” taman Eden (Kej. 2:15). Berdasarkan kedua teks ini dapat disimpulkan bahwa manusia adalah mahluk ”kreatif” dan ”inovatif”.  Bila dikatakan bahwa Adam dan Hawa adalah mahluk inovatif dan kreatif maka manusia zaman kini, termasuk anggota jemaat dari denominasi gereja manapun adalah bagian dari keturunan dari Adam dan Hawa yang juga memiliki potensi entrepreneurship.
            Pemaparan di atas tidak hanya sebatas Adam dan Hawa tetapi generasi Adam dan Hawa yaitu manusia dari segala suku bangsa juga adalah ciptaan Tuhan. Oleh karena ciptaan Tuhan maka manusia masa kini dan masa yang akan datang adalah makluk yang memiliki kemampuan entrepreneur. Segambar dan serupa ada pada setiap manusia yang sejak kejatuhan tidak hilang tetapi dipengaruhi dosa sehingga segala yang baik dalam diri manusia diarahkan pada kecenderungan yang jahat. Itulah sebabnya gambar dan rupa Allah dipulihkan dalam pengorbanan Kristus.
Kemampuan entrepreneur sebagaimana yang ditinjau secara teologis dalam paparan di atas searah dengan teori umum entrepreneur yang dikemukakan oleh Hendro, Menurut Hendro,
semua orang bisa menjadi entrepreneur dan menemukan jenis entrepreneurship yang sesuai dengan minat dan passionnya sendiri. Tidak ada orang yang tidk bisa sukses menjadi entrepreneur yang kaya di usia muda, namun yang perlu diencanakan, dikuasia dan dipahami adalah bagaimana cara membesarkn bisnis serta teguh pada pendirian bahwa suatu saat pasti sukses. Ingat, jangan mundur bila anda telah memutuskan karena kegagalan itu muncul di saat anda ragu memutuskan. [7]
Point penting yang dipertegas dalam pendapat Hendro, penulis buku Dasar-dasar Kewirausahaan adalah penekakannya pada “semua orang bisa menjadi entrepreneur” dan jenis-jenis entrepreneur yang sesuai dengan minat dan passionnya sendiri. Ini berarti anggota jemaat dapat dipimpin oleh seorang pemimpin dengan kepemimpinan entrepreneur yang mampu mengarahkan jemaat sehingga memberdayakan entrepreneur yang sesuai dengan kesukaan anggota jemaat.
            Jadi, potensi setia orang untuk berpikir kreatif sebenarnya sudah ada. Dikatakan demikian karena setiap orang adalah makluk ciptaan Tuhan yang segambar dan serupa, memiliki potensi entrepreneur (berpikir kreatif). Berpikir kreatif adalah proses berpikir yang menghasilkan kreativitas. Kreativitas tidak selalu menghasilkan produk konkrit, tetapi meliputi seluruh aspek kehidupan, diantaranya berupa ide. Mustahil bila seseorang tidak mempunyai ide. Ide tersebut menghantar setiap orang pada kreativitas. Kreativitas sangat penting untuk menyiasati segala keterbatasan yang dihadapi setiap orang Kristen, kreativitas tersebut menolong setiap orang untuk memecahkan masalah pada berbagai aspek kehidupan, sekaligus menghasilkan peluang atau karya baru untuk memudahkan kehidupan manusia. Sebenarnya, sejak dilahirkan setiap orang memiliki daya kreativitas yang cukup tinggi dalam DNA-nya. Tetapi masalah yang terjadi yakni tekanan hidup seiring proses pertambahan usia ternyata menekan daya kreativitas tersebut. Stres akibat mengalami tantangan kehidupan sehari-hari maupun dilema, membuat daya kreativitas seseorang berangsur kering. Namun daya kreativitas itu ternyata juga dapat diasah dan kembali ditingkatkan melalui kemampuan menciptakan tujuan yang jelas, agar dapat menghasilkan ide-ide yang jelas juga. Setelah itu, fokus dalam melakukan tindakan-tindakan untuk mencapai tujuan tersebut.



[1]William W. Menzies dan Stanley M. Horton , Doktrin Alkitab (Malang : Gandum Mas, 2003), hlm. 84-85
[2] Paul Enns, The Moody Handbook of Theology Buku Pengantar Teologi (Malang : Literatur SAAT, 2008), hlm. 44-45
[3] Theol. Diester Becker, Pedoman Dogmatika Suatu Kopendium Singkat (Jakarta : BPK, 2001), hlm. 88
[4] Millard J. Erickson, Teologi Kristen Volume II (Malang Gandum Mas, 2003), hlm.93
[5] Millard J. Erickson, Teologi Kristen Volume II (Malang Gandum Mas, 2003), hlm.93
[6] James Montgomery Boice, Dasar-dasar Iman Kristen (Surabaya : Momentum, 2011), hlm. 162-163
[7] Hendro, Dasar-dasar Kewirausahaan Panduan bagi Mahasiswa untuk Mengenal, Memahami, dan Memasuki Dunia Bisnis, (Jakarta: Erlangga, 2014), hlm.537

Jenis-jenis entrepreneur

BAB 4
Jenis-jenis entrepreneur 

Setiap orang memiliki kemampuan entrepreneur dalam dirinya. Oleh karena itu kemampuan itu perlu dikembangkan secara maksimal. Dalam teori entrepreneur dikenal empat jenis entrepreneur.
Dalam uraian potensi entrepreneur anggota jemaat ditemukan teori bahwa setiap orang memiliki potensi entrepreneur (kreatifitas dan inovasi). Namun tidak semua anggota jemaat dapat melakukan semua jenis entrepreneur sebagaimana yang ditemukan dalam teori entrepreneur. Dalam beberapa literature entrepreneur ditemukan informasi bahwa terdapat  empat macam entrepreneurship. Keempat macam entrepreneur ini perlu diketahui oleh setiap orang/pemimpin gereja/jemaat sehingga mampu memberdayakan diri/menggerakkan jemaat untuk menekuni salah satu dari jenis-jenis entrepreneur tersebut.
4.1. Jenis entrepreneur berdasarkan passion 

Yang dimaksud dengan jenis entrepreneur berdasarkan passion adalah kemampuan melakukan kreativitas dan inovasi berdasarkan passion seseorang. Ada yang memiliki passion di bidang bisnis, pendidikan, pemerintah dan sosial. Masing-masing bidang kerja ini ketika dihubungkan dengan entrepreneur maka akan nampak 4 jenis entrepreneur yang disebut dengan entrepreneur berdasarkan passion. Keempat jenis entrepreneur berdasarkan passion diuraikan sbb:

a.       Business entrepreneur. Ada dua macam, yaitu: owner entrepreneur yaitu para pencipta dan pemilik bisnis, dan professional entrepreneur yaitu orang-orang yang memiki daya entrepreneur, namun membaktikannya di perusahaan milik orang lain. Walaupun mereka orang gajian, pola pokir dan cara kerja mereka tetap seperti seorang entrepreneur sejati. Menurut Gifford Pinchot orang seperti ini disebut sebagai intrapreneur.
b.      Government entrepreneur. Contoh: Lee Kuan Yeow, mantan perdana menteri Singapura. Ia adalah seorang pemimpin yang mengelola dan menumbuhkan Singapura dengan jiwa kecakapan entrepreneur. Ia mampu mewujudkan entrepreneurial govermrent. Sheik Mohammed Bin Rashyd Almaktoum pemimpin Dubai telah mengelola negaranya seperti mengelola sebuah perusahaan. Hal ini menunjukkan suatu contoh pemimpin bangsa dan pejabat pemerintah yang memiliki kecakapan government entrepreneur.
c.       Academic entrepreneur. Menggambarkan akademisi yang mengajar atau mengelola lembaga pendidikan dengan pola dan gaya entrepreneur sambil tetap menjaga tujuan mulia pendidikan. Nocholas Negroponthe, penggagas berdirinya yayasan One Child One Laptop dari Massacuhtts Institute of Technology’s, adalah seorang contoh yang memiliki entrepreneurship.
d.      Sosial entrepreneur. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah para pejuang  social dan para pendiri organisasi-organisasi soasial kelas dunia seperti Mohhammad Yunus dari Grameen Bank dan Mother Teresha dari Calcuta. Pengertian sederhana dari social entrepreneur adalah seorang yang mengerti permasalahan social dan menggunakan kemampuan emtrepreneurship untuk melakukan perubahan social (social Change), terutama meliputi bidang kesejahteraan (welfare), pendidikan, dan kesehatan (heald Thcare). Jika business entrepreneur mengukur keberhasilan kinerja keuangan (provid ataupun revenue), maka keberhasilan social entrepenur diukur dari manfaat   yang dirasakan oleh masyarakat. [1]
4.2. Jenis entrepreneur berdasarkan Karakter Kepribadian 
Di atas telah dijelaskan jenis entrepreneur berdasarkan passion, maka dalam sub pokok bahasan kedua dari kompetensi dasar jenis-jenis entrepreneur yaitu jenis entrepreneur berdasarkan kriteria karakter kepribadian. Dalam penggolongan ini, entrepreneur dapat dibagi menjadi beberapa jenis. Berikut adalah penjabarannya seperti disarikan dari Wikipedia.org.[2] 
a.       tipe pendorong. Mereka adalah entrepreneur-entrepreneur yang memiliki semangat pantang menyerah dalam menjalankan bisnisnya dengan  integritas dan etika yang tinggi. [3]
b.      tipe penasihat. Mereka ini berpandangan bahwa para pelanggan pasti dan selalu benar dan melakukan apapun yang diperlukan agar semua yang ia lakukan membuat pelanggan merasa begitu puas sehingga sang pelanggan tidak ingin berbisnis dengan perusahaan lain. “Manjakan pelanggan sebagai raja” adalah motto yang mereka junjung tinggi. [4]
c.       tipe superstar. Entrepreneur superstar bergantung pada karisma dan pada tingkat energi yang tinggi. Entrepreneur superstar ditemukan di panggung-panggung tengah berpidato dengan audiens yang terpukau karena semangat dan karismanya yang memancar saat menyampaikan ide-ide inovatif nan cemerlang. Contoh tokoh entrepeneur superstar yang menonjol ialah Richard Branson, Larry Page, alm. Steve Jobs, Ratan Tata (anak dari Tata).
d.      Tipe entrepreneur seniman. Entrepreneur ini sangat aktif berkarya dengan kreativitas yang meluap-luap. Ia sangat sadar dengan apa yang ia lakukan dalam berbisnis. Ia sangat menghargai berbagai masukan konstruktif dan tidak terlalu terganggu dengan citra negatif mengenai dirinya yang ada di masyarakat yang menganggapnya eksentrik dan ‘gila’. Aamir Khan, Michael Dell sang pendiri Dell, dan MC Cormich dari EMI ialah mereka yang dapat digolongkan dalam kategori ini. Berikutnya ialah entrepreneur visioner yang sangat berfokus pada impian tetapi agak mengabaikan realitas. Visi mereka sangat besar dan tinggi dan membutuhkan profesional berkompeten untuk mewujudkan impian besarnya.  Jack Welch, Bill Gates, dan Kishore Biyani ialah sejumlah entrepreneur tipe visioner. [5]
e.       entrepreneur analis, yang lebih fokus pada pemecahan masalah yang terjadi di bisnis mereka dengan cara yang lebih sistematis dan terstruktur. Mereka misalnya Gordon Hore (Intel), Rana Kapur (Yes Bank), Gautam Adani (Adani Groups). [6]
f.       entrepreneur ‘bola api’. Mereka ini memiliki bisnis dan menjalankannya dengan semangat yang tinggi, vitalitas tinggi, energi yang meluap dan optimisme yang melimpah. Mereka memiliki pola kerja yang santai dan tidak mengikat asalkan masalah yang ada terselesaikan dengan baik dan tuntas. Satu entrepreneur yang termasuk jenis fireball ialah Malcolm Forbes yang mendirikan Forbes Magazine.
g.      entrepreneur pahlawan. Mereka yang termasuk jenis ini memiliki keinginan yang kuat sekali dalam memimpin masyarakat menuju perubahan yang diinginkannya dan sanggup membawa usahanya dalam gelombang perubahan dan tantangan yang tidak bisa dilewati entrepreneur-entrepreneur biasa.[7]
h.      Entrepreneur penyembuh ialah tipe selanjutnya yang cenderung memberikan dan memelihara harmonisasi atau keserasian pada usaha yang dijalankan. Mereka juga memiliki kemampuan untuk bertahan dan mempertahankan ketenangan dalam dirinya di saat krisis. Sejumlah entrepreneur yang sesuai dengan tipe ini ialah Dr. Bindeshwar Pathak (Sulabh International), Kumar Manglam Birla (anak L.M Birla).[8]
i.           entrepreneur oportunis. Mereka selalu mencari celah peluang dengan begitu giatnya. Hal ini menjadi pisau bermata dua bagi entrepreneur yang bersangkutan. Sebagian orang bisa menganggapnya rakus dan membuat fokusnya dalam berbisnis menjadi terganggu karena sibuk memburu peluang di mana-mana. Akan tetapi, dalam tingkatan yang moderat, entrepreneur dengan tipe oportunis akan dapat memiliki keunggulan dalam kejelian menemukan peluang emas dibandingkan yang lain.[9]
Berdasarkan macam entrepreneur di atas, setiap kita/anggota jemaat dapat dipimpin oleh seorang pemimpin dengan kepemimpinan entrepreneur Kristen untuk dapat melakukan salah satu atau beberapa macam entrepreneur yang sesuai dengan pergumulannya sehingga mendatangkan kesuksesan bagi dirinya dan orang lain (masyarakat gereja maupun masyarakat umum).  Pilihan atas beberapa entrepreneur di atas untuk kemudian dilakukan dalam kehidupan seorang anggota gereja dicirikan oleh Kristen. Artinya seorang entrepreneur Kristen memiliki ciri yaitu entrepreneur yang dibangun atas dasar firman Tuhan, seperti entrepreneur Ibu Tresa.












[1]S. Supriyanto, How to become a successful entrepreneur (Yogyakarta : Andi, 2014) hlm.17-18