BAB 3
Mengenali Potensi
Entrepreneurship dalam diri setiap orang: Setiap orang adalah entrepreneur
2.1.
Setiap orang adalah entrepreneur
Frasa potensi
dalam sub judul di atas dipakai dalam pengertian ada tidaknya jiwa entrepreneur
dalam diri setiap orang Kristen. Bila tidak ada potensi atau kemampuan
entrepreneur dalam diri orang Kristen maka kepemimpinan entrepreneurship
Kristen yang akan dibahas tidak akan berguna, akan tetapi bila ada potensi entrepreneur dalam diri
setiap orang Kristen maka sangat relevan untuk meneliti tentang kepemimpinan
entrepreneur Kristen.
Maksud yang
terkandung dalam alinea di atas menegaskan bahwa pembahasan tentang
entrepreneur menjadi demikian relevan. Untuk itu perlu landasan argumentasi
untuk membuktikan bahwa ada potensi entrepreneur dalam diri setiap orang
Kristen, khususnya warga jemaat. Dasar argumentasi bahwa setiap orang Kristen
atau anggota jemaat memiliki potensi entrepreneur didasarkan pada dasar
teologis dan teoritis yang dikemukakan sebagai berikut.
Berdasarkan
hasil studi etimologis dan berbagai definisi konseptual dari beberapa ahli
tentang entrepreneur yang intinya menekankan tentang ”inovasi” dan
”kreativitas” sebagai ciri seorang entrepreneur maka dipastikan bahwa semua
orang memiliki kemampuan entrepreneur.
2.2. Konfirmasi
Teologis setiap orang adalah entrepreneur
Konfirmasi teologis yang dimaksud
disini yakni pengakuan secara teologis Kristen yang didasarkan pada kitab suci
yaitu Alkitab meneguhkan bahwa manusia adalah ciptaan Tuhan yang segambar dan
serupa dengan TUHAN Allah. Hal ini berarti bahwa jauh sebelum
penggunaan kata entrepreneur yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan
kata ”wirausaha”, Alkitab telah menegaskan bahwa Allah adalah sang entrepreneur
yang memberi kemampuan entrepreneur dalam diri manusia yakni menciptakan
manusia (Adam dan Hawa) segambar dan serupa dengan Allah (bnd.
Kej. 1: 28). Allah adalah sang
entrepreneur utama dan pertama. Dikatakan demikian karena Allah menciptakan
langit dan bumi dari yang tiada menjadi ada. Ia adalah pencipta, Inovator dan
kreator. Oleh karena Allah adalah sang entrepreneur utama dan pertama maka Ia
menciptakan manusia dengan kemampuan entrepreneur sebagaimana yang dapat
dipahami dalam kata ”segambar” dan ”serupa”. Menurut William W. Menzies dan
Stanley M. Horton, kata gambar (Ibr. tselem) digunakan untuk patung dan model kerja. Jadi
menurut kedua ahli ini, penggunaan kata gambar secara tidak langsung menyatakan
bahwa di dalam diri manusia terdapat pencerminan sesuatu yang berkaitan dengan
sifat dasar Allah. Sedangkan kata ”rupa” (Ibr. demuth) digunakan untuk pola, bentuk
atau ukuran yang adalah sesuatu seperti Allah pada diri mereka. Kedua teolog di
atas melanjutkan komentarnya dengan menyatakan bahwa Adam dan Hawa dicipta
dalam kesempurnaan tetapi tetap ada perbedaan antara pencipta dan yang dicipta,
manusia makhluk terbatas dan bergantung pada Allah. Gambar Allah dalam diri
manusia terdiri atas gambar alamiah dan moral, dan bukan dalam arti segambar
dalam pengertian fisik.[1]
Pendapat
terakhir di atas juga didukung oleh teolog Paul Enns, menurutnya, gambar dan
rupa merupakan istilah yang tidak menunjuk secara fisik karena Allah adalah Roh
(bnd. Yoh. 4:24), menurut Enns, kata gambar dipakai dalam pengertian keserupaan
dalam spiritual, natural dan moral. Dalam keserupaan manusia (Adam dan Hawa) secara natural, menegaskan bahwa manusia
memiliki akal budi, emosi, dan kehendak untuk mengetahui dan berkomunikasi
dengan Allah.[2]
Paul Enns mengutip pandangan E. Brunner yang menyatakan bahwa manusia adalah
yang sama sekali berbeda dengn binatang. Perbedaan itu terletak pada rasio,
kebebasan dan daya cipta manusia.[3]
Oleh kemampuan rasio, kebebasan dan daya cipta yang ada pada manusia memampukan
manusia untuk melakukan apa yang disebut dengan entrepreneur (kemampuan
inovasi, kreasi dan kemampuan menangung resiko/berani menghadapi resiko sebagai
ciri entrepreneur).
Seorang teolog
Baptis, Millard J. Erickson, menyimpulkan pengertian manusia sebagai gambar dan
rupa Allah dalam enam (6), salah satunya yang cocok dengan entreprenur adalah
kesimpulannya tentang ”gambar Allah”
sebagai kekuatan-kekuatan
kepribadian yang menjadikan manusia, seperti halnya Allah, mampu berinteraksi
dengan pribadi yang lain, mampu berpikir,
dan merenung, serta berkehendak dengan bebas.” Gambar Allah adalah sejumlah
kemampuan yang dibutuhkan untuk mewujudkan hubungan dan fungsi tersebut.
Kemampuan-kemampuan tersebut adalah kemampuan-kemampuan Allah yang, ketika
tercermin di dalam manusia, memungkinkan pemujaan, interaksi personal, serta
pekerjaan dapat terlaksana”.[4]
Kemampuan ini merupakan akibat atau penerapan dari gambar Allah. [5]
Pakar teolog
yang lain seperti James Montgomery Boice
menyatakan, salah satu arti diciptakan menurut gambar Allah adalah Adam dan
Hawa (Laki-laki dan perempuan) memiliki atribut-atribut kepribadian yang Allah
sendiri miliki, tetapi yang binatang-binatang, tumbuh-tumbuhan dan materi tidak
miliki. Untuk memiliki kepribadian, siapapun harus memiliki pengetahuan,
perasaan (termasuk perasaan-perasaan religius) dan suatu kehendak. Allah
memiliki kepribadian, demikianlah juga manusia.[6]
Berdasarkan
kemampuan ini, Allah menugaskan manusia pertam, Adam dan Hawa untuk
”mengusahakan” dan ”memelihara” taman Eden (Kej. 2:15). Berdasarkan kedua teks
ini dapat disimpulkan bahwa manusia adalah mahluk ”kreatif” dan ”inovatif”. Bila dikatakan bahwa Adam dan Hawa adalah
mahluk inovatif dan kreatif maka manusia zaman kini, termasuk anggota jemaat
dari denominasi gereja manapun adalah bagian dari keturunan dari Adam dan Hawa
yang juga memiliki potensi entrepreneurship.
Pemaparan
di atas tidak hanya sebatas Adam dan Hawa tetapi generasi Adam dan Hawa yaitu
manusia dari segala suku bangsa juga adalah ciptaan Tuhan. Oleh karena ciptaan
Tuhan maka manusia masa kini dan masa yang akan datang adalah makluk yang
memiliki kemampuan entrepreneur. Segambar dan serupa ada pada setiap manusia
yang sejak kejatuhan tidak hilang tetapi dipengaruhi dosa sehingga segala yang
baik dalam diri manusia diarahkan pada kecenderungan yang jahat. Itulah
sebabnya gambar dan rupa Allah dipulihkan dalam pengorbanan Kristus.
Kemampuan
entrepreneur sebagaimana yang ditinjau secara teologis dalam paparan di atas
searah dengan teori umum entrepreneur yang dikemukakan oleh Hendro, Menurut
Hendro,
semua
orang bisa menjadi entrepreneur dan menemukan jenis entrepreneurship yang
sesuai dengan minat dan passionnya sendiri. Tidak ada orang yang tidk bisa
sukses menjadi entrepreneur yang kaya di usia muda, namun yang perlu
diencanakan, dikuasia dan dipahami adalah bagaimana cara membesarkn bisnis
serta teguh pada pendirian bahwa suatu saat pasti sukses. Ingat, jangan mundur
bila anda telah memutuskan karena kegagalan itu muncul di saat anda ragu
memutuskan. [7]
Point
penting yang dipertegas dalam pendapat Hendro, penulis buku Dasar-dasar
Kewirausahaan adalah penekakannya pada “semua orang bisa menjadi entrepreneur”
dan jenis-jenis entrepreneur yang sesuai dengan minat dan passionnya sendiri.
Ini berarti anggota jemaat dapat dipimpin oleh seorang pemimpin dengan
kepemimpinan entrepreneur yang mampu mengarahkan jemaat sehingga memberdayakan
entrepreneur yang sesuai dengan kesukaan anggota jemaat.
Jadi, potensi setia orang untuk
berpikir kreatif sebenarnya sudah ada. Dikatakan demikian karena setiap orang
adalah makluk ciptaan Tuhan yang segambar dan serupa, memiliki potensi
entrepreneur (berpikir kreatif). Berpikir kreatif adalah proses berpikir yang
menghasilkan kreativitas. Kreativitas tidak selalu menghasilkan produk konkrit,
tetapi meliputi seluruh aspek kehidupan, diantaranya berupa ide. Mustahil bila
seseorang tidak mempunyai ide. Ide tersebut menghantar setiap orang pada
kreativitas. Kreativitas sangat penting untuk menyiasati segala keterbatasan
yang dihadapi setiap orang Kristen, kreativitas tersebut menolong setiap orang untuk
memecahkan masalah pada berbagai aspek kehidupan, sekaligus menghasilkan
peluang atau karya baru untuk memudahkan kehidupan manusia. Sebenarnya, sejak
dilahirkan setiap orang memiliki daya kreativitas yang cukup tinggi dalam
DNA-nya. Tetapi masalah yang terjadi yakni tekanan hidup seiring proses
pertambahan usia ternyata menekan daya kreativitas tersebut. Stres akibat
mengalami tantangan kehidupan sehari-hari maupun dilema, membuat daya
kreativitas seseorang berangsur kering. Namun daya kreativitas itu ternyata
juga dapat diasah dan kembali ditingkatkan melalui kemampuan menciptakan tujuan
yang jelas, agar dapat menghasilkan ide-ide yang jelas juga. Setelah itu, fokus
dalam melakukan tindakan-tindakan untuk mencapai tujuan tersebut.
[1]William W. Menzies dan Stanley M.
Horton , Doktrin Alkitab (Malang : Gandum Mas,
2003), hlm. 84-85
[2] Paul Enns, The Moody Handbook of Theology Buku
Pengantar Teologi (Malang : Literatur SAAT, 2008), hlm. 44-45
[3] Theol. Diester
Becker, Pedoman Dogmatika Suatu Kopendium
Singkat (Jakarta : BPK, 2001), hlm. 88
[4] Millard J. Erickson, Teologi Kristen Volume II (Malang Gandum
Mas, 2003), hlm.93
[5] Millard J. Erickson, Teologi Kristen Volume II (Malang Gandum
Mas, 2003), hlm.93
[6] James Montgomery
Boice, Dasar-dasar Iman Kristen
(Surabaya : Momentum, 2011), hlm. 162-163
[7] Hendro, Dasar-dasar Kewirausahaan Panduan bagi
Mahasiswa untuk Mengenal, Memahami, dan Memasuki Dunia Bisnis, (Jakarta:
Erlangga, 2014), hlm.537
Tidak ada komentar:
Posting Komentar