Selasa, 25 Oktober 2016

Mengatasi masalah melalui penerapan entrepreneur

Bab 7
Mengatasi Masalah melalu penerapan Entrepreneurship   
7.1. Mengatasi masalah melalui penerapan entrepreneur    

Berdasarkan bebrbagai definisi entrepreneur tersebut di atas, jelaslah bahwa seorang entrepreneur adalah seorang yang mampu mengubah masalah menjadi peluang kesuksesan. Seorang anggota jemaat atau orang Kristen tidak dapat terhindar dari masalah sebagaimana yang dialami orang non Kristen. Ada beragam masalah yang selalu terjadi dalam kehidupan manusia, termasuk kehidupan orang Kristen. Dalam menghadapi masalah tersebut, seorang entrepreneur Kristen  menjadikannya sebagai peluang untuk meraih kesuksesan. Jika demikian apa yang dimaksud dengan masalah dan bagaimana mengubah masalah menjadi peluang kesuksesasan dapat diperhatikan dalam teori berikut ini.
Menurut Peter F. Drucker dalam website zainal Hakim menyatakan, masalah dapat timbul akibat ketidakserasian atau suatu penyimpangan, artinya suatu ketidaksesuaian antara yang ada dengan yang “seharusnya” atau antara yang ada dengan yang diasumsikan setiap orang. Dengan kata lain, masalah diartikan sebagai sebuah kumpulan kesulitan ataupun pertanyaan yang perlu diselesaikan, dihadapi, dan membutuhkan jawaban secara pasti. [1]
Kebenaran prinsip yang dikemukakan dalam pendapat Peter F. Drucker tentang masalah tidak dapat disangkal terjadi juga dalam gereja. Ada masalah dalam kehidupan anggota gereja, khususnya masalah dalam kesuksesasan finansial dan masalah-masalah yang non financial, seperti kemampuan merintis pelayanan, masalah-masalah yang berhubungan dengan kerohanian jemaat. Masalah financial anggota gereja dapat juga mempengaruhi kesuksesasan financial gereja. Gereja yang hanya terbatas pada financial yang terbatas pada persembahan anggota jemaat. Ini merupakan beberapa masalah yang perlu diselesaikan melalui pengembangan semangat jiwa entrepreneur anggota gereja. Untuk mengatasi masalah diperlukan usaha.
Menurut Geoffrey G. Meredith (1992) usaha adalah tindakan yang diarahkan dengan menggunakan kekuatan untuk menuju pada pencapaian tujuan tertentu. Usaha diartikan pula sebagai aktivitas-aktivitas yang berkelanjutan dan terus menerus mengalami peningkatan dari aktivitas awal untuk menuju suatu titik pencapaian akhir. Namun dalam dunia bisnis, usaha diartikan sebagai jumlah atau kualitas dari suatu bidang pekerjaan yang menghasilkan suatu output dari pemanfaatan sejumlah input. [2]
Dengan demikian dapat diartikan bahwa masalah usaha adalah suatu kesulitan pada dunia kerja atau bisnis yang terjadi akibat adanya perbedaan antara apa yang diharapkan dengan apa yang telah terjadi sehingga menuntut para pelaku bisnis (pekerja) untuk menyelesaikan kesulitan tersebut dengan sejumlah kekuatan yang dimilki secara maksimal. [3] 
Para wirausahawan hendaknya dapat menganalisis masalah dengan mengumpulkan data-data, mengolahnya, dan menarik kesimpulan dari penganalisisan tersebut. Pemecahan masalah dan cara penyelesaiannya dalam usaha atau bisnis sebenarnya tidak begitu sukar jika seorang wirausahawan sudah banyak pengalaman di dalam lingkungan usaha atau bisnisnya. Jika persoalan-persoalan sudah ditentukan dan semua informasi serta data-data masalah sudah dikumpulkan, seorang wirausahawan harus mengidentifikasi semua cara pemecahan masalah yang dapat dilaksanakan. Seorang wirausahawan harus memandang sebuah permasalahan dari berbagai sudut pandang dan mencari cara baru untuk memecahkan masalahnya. Jika kelompok karyawan perusahaan mengurangi jumlah masalahnya, di sini wirausahawan harus mempertimbangkan masalahnya agar menjadi luas dan mendalam. Jika seorang wirausahawan di dalam usaha atau bisnisnya berniat untuk meninjau lagi semua pemecahan masalah yang mungkin terdapat di dalam daftar, maka beberapa pemecahan itu dapat digabungkan, sedangkan pemecahan masalah yang lainnya dapat dikesampingkan. [4]

7.2.  Mengatasi Masalah bersama di Indonesia    
Ada berbagai masalah yang terjadi di Indonesia. Masalah ini tidak hanya menjadi tanggungjawab pemerintah tetapi setiap komunitas yang ada dalam negara Republik Indonesia. Salah satu komunitas itu yakni orang Kristen dalam level komunitas Sekolah Tinggi Teologi. Sekolah Tinggi Teologi tidak hanya terpanggil untuk membentuk warga akademis dalam pergumulan teologis vertikal tetapi juga horisontal (sosial kemasyarakatan).
Ada pada setiap warga Kristen kemampuan kreatifitas dan inovasi. Kemampuan ini merupakan cirri khas entrepreneur. Kreatifitas dan inovasi adalah kemampuan yang Tuhan anugerahkan dalam diri manusia sehingga manusia mampu memelihara dan mengusahakan lingkungan di mana manusia berada dan berinteraksi. Melalui kreatifitas tersebut mansia mampu mengubah tantangan/kesulitan hidup menjadi peluang meraih kesuksesan. Mulculnya kreativitas berhubungan dengan konteks yang dihadapi manusia. Dalam hal ini kepemimpinan entrepreneur Kristen di Indonesia dibutuhkan karena beberapa hal yang dihadapi di Indonesia. Salah satunya adalah pengangguran yang juga menjadi masalah bagi gereja. Dalam konteks ini butuh seorang pemimpin Kristen yang mempunyai mimpi. Seorang pemimpin entrepreneur Kristen adalah seorang pemimpi yang hendak mewujudkan mimpinya menjadi kenyataan atau menjadi sukses di Indonesia. Seorang pemimpin yang melaksanakan kepemimpinan entrepreneur Kristen adalah seorang yang berani menciptakan peluang bagi orang lain di tengah-tengah masalah pengangguran. Dalam konteks pemahaman yang demikian maka hal-hal yang mendorong kepemimpinan entrepreneur Kristen adalah memahami realitas di Indonesia. Realitas itu dijelaskan sebagai berikut.
7.3.Meminimalisasi Pengangguran terdidik    
Seorang entrepreneur Kristen mesti memperhatikan realitas di Indonesia. Salah satu realitas yaitu kesulitan mendapat kerja sehingga mengakibatkan pengangguran. Hendro memakai istilah pengangguran terdidik. Menurutnya, salah satu realitas di Indonesia yang tidak dapat disangkal yakni Indonesia dihadapkan  pada bahaya atau ancaman pengangguran yang disebut dengan pengangguran terdidik yang semakin tinggi. Pengangguran adalah orang yang tidak bekerja sama sekali, sedang mencari kerja, atau seseorang yang sedang berusaha mendapatkan pekerjaan yang layak. Banyak factor yang menyebabkan terjadinya pengangguran. Salah satu yakni jumlah angkatan kerja atau para pencari kerja tidak sebanding dengan jumlah lapangan kerja yang dapat menampung tenaga kerja. Pengangguran terdidik sebagaimana yang dimaksud di atas adalah seorang yang telah lulus pendidikan dan ingin mendapatkan pekerjaan tetapi belum dapat memperolehnya. Para penganggur terdidik umumnya dari kelompok masyarakat menengah keatas yang memungkinkan adanya jaminan kelangsungan hidup meski menganggur.[5]
Angka pengangguran pemuda terdidik mencapai 47,81 persen dari total angka pengangguran nasional. Lulusan perguruan tinggi yang diharapkan mendapat pekerjaan atau mampu menciptakan kerja ternyata tidak mampu mendapat pekerjaan dan menciptakan lapangan kerja. Apa yang terjadi yakni bahwa lulusan perguruan tinggi menduduki peringkat pengangguran terdidik tertinggi yaitu diperkirakan di level 5,8- 6,1 persen pada 2014 cukup realistis dengan asumsi pertumbuhan ekonomi dikisaran 6,8-7,2 persen dimana setiap 1 persen pertumbuhan ekonomi dapat menciptakan lebih dari 350.000 kesempatan kerja. Beberapa penyebab antara lain perguruan tinggi merencanakan pengembangan pendidikan kurang selaras dengan perkembangan lapangan kerja.[6] Selain itu, pola pikir mahasiswa yang selalu ingin menjadi pekerja/pegawai. Paradigma yang dimiliki yakni setelah lulus kuliah, mencari pekerjaan bukan bisa membuat lapangan pekerjaan sendiri melalui wirausaha. [7] 
Selain itu, warga masyarakat yang berpendidikan rendah juga rentan terhadap pengangguran. Dalam riset teoritik yang dilakukan Hendro diperoleh infrormasi bahwa sebanyak 55 % angkatan kerja nasional adalah lulusan SD, SMA dan sederajat , kemudian lulusan sarjana yang kini semakin banyak. Sementara  pertumbuhan lapangan kerja lamban dan arus modal dari luar negeri rendah. Realitas empiris ini menuntut para lulusan SMA dan Perguruan Tinggi membekali diri dengan sejumlah kemampuan untuk menciptakan lapangan kerja. Kemampuan itu akan diperoleh bila seseorang mendapat pengetahuan entrepreneur dan berusaha mengembangkannya. Melalui ilmu entrepreneurship tercipta  mindset di dalam diri para lulusan perguruan tinggi untuk tidak hanya berorientasi pada mencari kerja saja, tetapi mampu menciptakan lapangan kerja. Pilihan menciptakan lapangan kerja terbukti menghasilkan pendapatan yang lebih besar daripada pilihan berkarir, mencari kerja, atau menjadi karyawan. Hal ini bisa tercapai bila setiap orang, khususnya warga gereja dibekali dengan pengetahuan, wawasan, keterampilan, pola piker, strategi, dan taktik yang mumpuni, yaitu entrepreneur yang cerdas. Perlu diketahui bahwa bahwa 80 % orang berhasil atau menjadi kayak arena berwira usaha.[8]
            Apa yang dideskripsikan di atas bersifat umum tetapi sudah dan sedang dan akan dihadapi oleh warga Gereja di Indonesia. Warga gereja juga pasti menghadapi kenyataan adanya lapangan kerja yang terbatas karena adanya krisis global. Dalam hal ini krisis global menyebabkan terjadinya pengangguran terdidik. Tidak semua warga gereja menjadi pegawai negeri, sementara menjadi pegawai negeri peluangnya sangat terbatas. Warga gereja yang tidak mempunyai penghasilan pastilah menjadi masalah. Sementara Alkitab menyatakan bahwa manusia dicipta segambar dan serupa dengan-Nya. Maka warga jemaat juga memiliki kemampuan untuk tidak hanya mencari lapangan kerja tetapi mampu menciptakan lapangan kerja dengan cara mengembangkan semangat entrepreneur dalam diri anggota jemaat. Untuk maksud inilah maka diperlukan seorang pemimpin yang mampu memimpin warga gereja dengan kepemimpinan entrepreneur Kristen.
            Kepemimpinan entrepreneur Kristen tidak hanya mendorong Gereja bernyanyi dalam ibadah dengan nyanyian: Betapa kita tidak bersyukur bertanah air kaya dan subur dan syair selanjutnya, tetapi harus bertindak mempersiapkan warga jemaat mewujudkan kemampuan mengusahakan dan memelihara (inovasi dan kreativitas) yang telah Tuhan berikan kepada setiap orang (bnd. Kej. 2:15). Kepemimpinan entrepreneur Kristen dalam merespon realitas pengangguran karena terbatasnya dunia kerja hendaknya mampu mendorong dan mewujudkan anggota jemaat untuk menciptakan usaha atau mampu menciptakan lapangan kerja melalui usaha dalam sakala kecil sampai besar.
Pengangguran tidak hanya ada di luar anggota jemaat tetapi juga dalam anggota jemaat. Gereja dari waktu ke waktu bergumul dalam menolong anggota jemaat yang tidak mempunyai pekerjaan. Salah satu ilmu yang dapat menolong kesadaran dan perwujudannya adalah entrepreneur. Entrepreneur bertujuan untuk mengurangi pengangguran. Walaupun demikian, para pengajar entrepreneur memperingatkan bahwa entrepreneur bukan merupakan ilmu ajaib yang mendatankan uang dalam sekejab (budaya instan yang melanda negeri ini), tetapi entrepreneur merupakan sebuah ilmu, seni, dan keterampilan untuk mengelola semua keterbatasan sumber daya, informasi, dan dana yang ada guna mempertahankan hidup, mencari nafkah (penghasilan yang memadai) atau meraih posisi puncak dalam karier melalui sebuah proses waktu yang relatif panjang. [9]
Bila satu orang lulusan perguruan tinggi menjadi wirausaha, maka kemungkinan ia akan mencari temannya sebagai patner dan mungkin salah satu temannya akan diajak untuk menjadi karyawan (bekerja kepadanya). Jika jumlah lulusan yang menjadi wirausaha adalah 10 %, maka yang akan bergabung dengannya bias menjadi 20 % ( satu partner dan satu karyawan). Dengan demikian jumlah pencari kerja angkatan tahun tersebut otomatis berkurang 30 %. [10]
7.4.   Manfaat mempersiapkan diri dengan entrepreneur     

Dalam perguruan tinggi dan dunia pendidikan, tujuan mempelajari entrepreneurship yaitu: yaitu :
a.       Pendidikan saja sudah tidak cukup mempersiapkan seseorang untuk sukses di masa depan. Berbagai kesulitan akan dihadapi seseorang, maka dibutuhkan orang-orang yang sanggup mengubah kesulitan menjadi peluang dan memberi kontribusi bagi usaha.
b.      Entrepreneur dapat diterapkan di semua bidang pekerjaan dan kehidupan. Dengan demikian, entrepreneur sangat berguna sebagai persiapan masa depan mahasiswa bila ingin berkarir di bidang apapun.
c.       Mempersiapkan para lulusan sekolah/perguruan tinggi untuk mampu menghadapi kesulitan mendapatkan pekerjaan atau terkena PHK, dan menjadikan entrepreneurship sebagai langkah alternative untuk mencari nafkah untuk bertahan hidup.
d.      Demi sukses di dunia usaha/kerja, tidak cukup bagi seseorang  pandai bicara tetapi perlu membuktikannya dalam tindakan nyata. Oleh karena itu entrepreneurship adalah ilmu nyata yang dapat menolong mewujudkan mimpi.
e.       Memajukan perekonomian Indonesia dan menjadi lokomotif peningkatan kesejahteraan dan kemakmuran bangsa Indonesia.
f.       Meningkatkan pendapatan keluarga dan daerah yang akan berujung pada kemajuan ekonomi bangsa.
g.      Membudayakan sikap unggul, perilaku positif, dan kreatif.  
h.      Menjadi bekal ilmu untuk mencari nafkah, bertahan hidup, dan berkembang.[11]
Setiap ilmu lahir dari proses berpikir, dan diuji melalui berbagai metode ilmiah yang dipergunakan dalam menghasilkan ilmu pengetahuan tersebut. Dalam hal ini, entrepreneur sebagai sebuah disiplin ilmu yang mandiri, dipelajari di perguruan tinggi sebagai mata kuliah, pastilah mempunyai manfaat bagi dunia akademis maupun dunia praktikal, termasuk dunia gereja. Gereja mengimani bahwa TUHAN menciptakan manusia segambar dan serupa dengan pencipta. Salah satu kemampuan yang diberi Tuhan kepada manusia adalah kemampuan berpikir. Melalui kemampuan berpikir tersebut manusia menaklukkan alam semesta dan isinya untuk memuliakan Tuhan, dan melangsungkan kehidupan jasmani selama hidup di dunia.
Dunia di mana Gereja/anggota jemaat hidup dan berinteraksi merupakan dunia di mana kesulitan dan kesuksesan di alami seseorang secara silih berganti. Artinya tidak ada orang yang selamanya hidup sukses tanpa melalui kesulitan. Kesulitan pasti dihadapi gereja (anggota jemaat), namun bagaimana mengubah kesulitan menjadi sebuah peluang yang olehnya anggota gereja menikmati pemenuhan doa Bapa Kami “mendapat makanan secukupnya” (bnd. Mat. 6:9). Kemampuan mengubah tantangan menjadi peluang menjadi konsentrasi dari ilmu entrepreneurship. Seorang pemimpin entrepreneurship Kristen mampu memimpin anggota jemaat memaksimalkan kemampuan entrepreneur yang merupakan anugerah Tuhan dalam diri setiap orang. Semua anggota memiliki kemampuan entrepreneur. Mereka membutuhkan pemimpin dengan kepemimpinan entrepreneur Kristen.
Beberapa kemanfaatan dari ilmu entreprenership yang dikemukakan di atas tidaklah diterima secara utuh tanpa seleksi Kristiani. Maksudnya beberapa poin dari manfaat entrepreneur tersebut di atas perlu dinilai berdasarkan iman Kristen yang didasarkan pada Alkitab. Prinsip-prinsip tersebut di atas tidak boleh membuat entrepreneur Kristen menjadi antroposentris karena kesuksesan tidak semata-mata bergantung pada usaha manusia tetapi kesuksesan juga berhubungan dengan kehendak Tuhan. Akan tetapi prinsip teologis ini juga tidak boleh mengabaikan peran manusia di dalamnya. Maksud usaha manusia untuk meraih kesuksesan itu penting tetapi tetap menempatkan Tuhan sebagai pribadi yang berkarya untuk kesuksesan seseorang. Manfaat entrepreneur dapat diperhatikan dalam nasehat-nasehat Amsal.
7.5.   Peluang Entrepreneur Kristen di Indonesia    

Kepemimpinan entrepreneur Kristen ada karena anggota gereja (orang Kristen) sebagai makluk yang dicipta segambar dan serupa dengan pencipta, memiliki potensi dalam menghadapi berbagai kondisi yang berlangsung selama hidup. Anggota gereja tidak hanya memiliki peluang sukses tetapi juga menghadapi berbagai kesulitan, akibatnya ada sebagian anggota gereja yang gagal meraih kesuksesan financial. Kesuksesan financial juga merupakan bagian dari isi doa Bapa Kami (bnd. Mat. 6:9). Namun untuk mencapai pemenuhan doa Tuhan Yesus: “Berikanlah kami hari ini makanan kami secukupnya”, berkait erat dengan kemampuan memberdayakan mandate  budaya (bekerja pada lapangan kerja yang sudah tersedia/intrapreneur atau menciptakan peluang kerja/entrepreneur).
Memahami akan realitas di Indonesia yang masih terus berjuang dengan mengatasi pengangguran maka peluang entrepreneur di Indonesia bagi warga gereja sangat terbuka. Dengan kata lain, memberdayakan kemampuan kreatif anggota gereja sehingga mampu menciptakan lapangan kerja bagi orang lain yang sedang mencari kerja menjadi hal yang sangat dimungkinkan di Indonesia. Artinya bila anggota gereja mampu berwirausaha/menciptakan suatu usaha kecil yang akan berkembang menjadi usaha yang besar dan mampu menampung banyak tenaga kerja maka sebenarnya gereja sudah berjuang untuk menolong mengatasi pengangguran.
Menurut pengamatan Hendro, entrepreneur belum berkembang secara maksimal di Indonesia. Hal ini disebabkan karena pola berpikir  yang salah. Kesalah yang dimaksud yakni aksi tanpa didukung oleh factor-faktor lain yang menopang kesuksesan dalam entrepreneur. Kesuksesan dalam entrepreneur bukan hanya modal keberanian, nekat tetapi juga dukungan financial. Entrepreneur Indonesia yang sukses ditopang oleh factor utama yaitu : tempaan waktu dan kerja keras yang tidak kenal menyerah, dan  modal yang cukup dan terus-menerus dukucurkan dan akhirnya sukses.[12]
7.6.   Kesiapan Memasuki era ekonomi berbasis entrepreneur    
Gereja mesti memiliki kesiapan menghadapi berbagai tantangan, khususnya krisis keuangan. Beberapa tahun yang lalu bahkan kini, krisis keuangan tersebut masih menjadi pergumulan. Keadaan demikian membutuhkan kesiapan gereja untuk menghadapinya dalam semangat entrepreneur. Kepemimpinan Kristen perlu mempersiapkan warga gereja dengan kemampuan entrepreneur untuk menghadapi berbagai kesulitan yang terjadi.
Menurut Hendro, perekonomian Indonesia pada saat ini dan di masa yang akan datang akan dimotori oleh para tamatan perguruan tinggi dengan semangat, hoby, dan cita-cita menjadi entrepreneur. Bila beberapa waktu terdahulu, seseorang yang lulus dari perguruan tinggi dengan cita-cita menjadi  seorang professional sukses, memiliki kedudukan yang baik dan mapan di perusahaan besar, terkemuka, dan mempunyai banyak cabang. Akan tetapi kenyataan yang terjadi sekarang yakni kondisi dan situasi yang cukup sulit untuk mewujudkan mimpi tersebut, maka hal ini mendorong para lulusan perguruan tinggi untuk menjadi young entrepreneur. [13]
Jadi, meraih kesuksesan tidak hanya memlaui pekerjaan professional (bekerja di perusahan dengan jabatan-jabatan yang menjamin penghasilan tetap setiap bulan), tetapi kesuksesan juga dapat dicapai melalui kemampuan merubah kesulitan menjadi peluang kesuksesan. Mampu mengubah mental merasa nyaman bila mendapat pekerjaan di perusahan dan mendaat gaji bulanan, tetapi mengubahnya dengan mampu menciptakan kerja baru yang menolong kesuksesan dan memberi peluang kerja kepada orang lain. Dengan demikian pengangguran diminimalisasi.
Kepemimpinan entrepreneur Kristen  mampu mempersiapkan anggota gereja, khususnya yang hendak menyelesaikan studi dalam jenjang pendidikan tertentu agar mampu menghadapi berbagai kesulitan dalam meraih kesuksesan financial yang pada akhirnya menolong ekonomi gereja. Sedangkan anggota gereja yang oleh karena satu dan lain alasan tidak memiliki peluang menyelesaikan studi dalam tingkatan pendidikan tertentu, merekapun dapat dipersiapkan secara baik dalam semangat entrepreneur. Realitas bahwa ada anggota jemaat yang sulit mendapat pekerjaan di perusahan dan menjadi pegawai negeri tidak dapat diabaikan. Masih ada anggota gereja yang belum mendapat kerja, dan terus mencari kerja. Kepada mereka perlu dibimbing dalam semangat entrepreneur sehingga mereka mampu menciptakan peluang usaha yang melaluinya mereka mendapat kesuksesan financial. Bila mereka sukses financial melalui kemampuan menciptakan peluang kerja maka gereja tertolong dalam kemandirian dana. Dikatakan demikian karena salah satu sumber dana gereja adalah persembahan anggota jemaat. Semakin anggota jemaat mewujudkan kemampuan entrepreneur maka semakin bertambah persembahan ke Gereja.
Para entrepreneur muda dalam gereja ditolong melalui kepemimpinan entrepreneur sehingga memiliki kesiapan dan kemampuan berjuang memulai usaha yang diawali dari skala kecil (dalam  arti omset kecil), dan dikelola dengan serius dan manajemen yang baik, maka usahanya pasti  semakin maju. Kesiapan memasuki era ekonomi berbasis entrepreneur menolong anggota gereja, khususnya entrepreneur muda dalam gereja untuk tidak hanya menjadi ekor dalam sebuah usaha tetapi menjadi kepala atau bos untuk dirinya sendiri.
Hendro menyatakan: para entrepreneur muda tidak ingin menjadi bagian kecil dalam sebuah unit usaha tetapi ingin menjadi bos untuk dirinya sendiri. Entrepreneur yang sukses bukan cuma milik orang tua. Akan tetapi orang-orang muda pun dapat menjadi entrepreneur-entrepreneur yang sukses.[14]
Jadi, tidak ada anggota jemaat yang tidak dapat menjadi entrepreneur atau tidak siap memasuki era ekonomi berbasis entrepreneur. Anggota jemaat memiliki entrepreneur. Oleh karena itu mereka membutuhkan kepemimpinan entrepreneur Kristen yang mampu mengarahkan mereka meraih kesuksesan financial.
7.7.   Kemampuan memberdayakan Potensi Diri    
Perlu dipahami bahwa entrepreneur adalah kemampuan memberdayakan semua kemampuan yang ada pada setiap orang. Kemampuan entrepreneur yang dimaksud yakni kemampuan yang merupakan kombinasi dari pengetahuan akademis dan kreatifitas atau cara mengelola kesulitan menjadi peluang  sukses. Kemampuan demikian disebut dengan entrepreneurial skill (kemampuan entrepreneur) yaitu kemampuan untuk mengatasi kesulitan, hambatan dan tantangan agar tidak mengalami kegagalan lagi. Dengan kata lain kemampuan entrepreneur adalah usaha membuktikan dalam tindakan nyata. Dalam hal ini pengetahuan akdemis saja tidaklah cukup untuk menolong seseorang menghadapi kesulitan hidup, perlu ada kemampuan (skill) atau keahlian yang melengkapi kehidupan seseorang yang menolongnya untuk menjadi sukses.[15]
Jadi,  keterampilan entrepreneurial adalah perpaduan  pengetahuan akademis dan kreatifitas (cara mengelola) / kemampuan untuk mengelola, memberdayakan, dan memanfaatkan pengetahuan akademis dalam mengatasi masalah, kesulitan, dan tantangan yang dihadapi oleh seseorang.  Dalam hal ini, kreatifitas dan inovasi berfungsi melengkapi seseorang untuk sukses dalam melaksanakan entrepreneur. Dengan kata lain seorang entrepreneur adalah seorang yang memiliki kreatifitas yaitu kemampuan mengelola, memberdayakan, dan menggunakan pengetahuan apapun yang ia miliki, informasi, pengalaman, dan keterampilan lainnya untuk  mengatasi kesulitan yang dihadapinya dan dengan kemampuan kreativitas mampu mengubah kesulitan yang dihadapinya menjadi peluang sukses.  Henro mengemukakan sebuah pemahaman yang baik antara pengetahuan dan kreativitas dengan menyatakan, pengetahuan adalah perkakas dan kreatifitas adalah cara memasak untuk membuat segalanya  terselesiakan dengan baik. Kemampuan entrepreneurial juga merupakan penggabungan dari dua sisi kemampuan seseorang untuk mengatasi kesulitan dan tantangan usaha.[16] Jadi, kepemimpinan entrepreneur Kristen adalah kepemimpinan yang memberdayakan kreativitas dan inovasi dalam diri setiap orang Kristen. Untuk itu perlu memperhatikan teori kreativitas dan inovasi berikut ini.
7.8.Mengusakan Entrepreneur Sesuai Passion Jemaat  
Seorang pemimpin yang menerapkan kepemimpinan entrepreneur Kristen hendaknya mendorong anggota jemaat untuk melakukan usaha sesuai dengan jenis entrepreneur yang cocok dengan pergumulan dan ketrampilan teknis (technical skill) yang mendukungnya.
No
Jenis Entrepreneur
Ketrampilan yang mendukung (Ketrampilan teknis)
1
Usaha restoran
Memasak
2
Usaha Konfeksi
Mendesain dan menjahit
3
Usaha distribusi
Menjual dan memasarkan
4
Usaha servis komputer
Ketrampilan mengenai komputer
5
digitalpreneur
Ketrampilan usaha online: Memahami internet, domain, hosting

Dalam melaksanakan entrepreneur diperlukan ketrampilan teknis. Ketrampilan teknis ini sangat penting sebagai ketrampilan inti dalam membangun kemampuan kewirausahaan. [17] Dalam setiap jenis bisnis, pasti ada keterampilan teknis yang diperlukan sebagai ketrampilan intinya (Specialist skill). Dalam Alkitab ada beberpa contoh entrepreneur. Paulus, seorang rasul yang seharusnya memiliki hak ekonomi tetapi ia memilih mencukupi kebutuhan pelayanan berdasarkan jenis entrepreneur yaitu “membuat tenda”. Jenis entrepreneur ini cocok bagi Paulus, sebaliknya Paulus tidak bisa dipaksa berusaha dalam entrepreneur dalam bidang pengusaha kain seperti Lidya dari Tiatira. Contoh umum, seorang anggota jemaat yang punya “passion” dalam memasak sebaiknya membuka usaha dalam bidang rumah makan dan lain-lain.
Bagi anggota jemaat atau orang Kristen yang memiliki jiwa entrepreneur dan passion dalam digital maka dapat mengembangkan digital entrepreneur. Digitalpreneur yang dapat digumuli oleh anggota gereja seperti:
1.      Situs jejaring social dan media yang menjual komunitasnya. Contoh: friendster, facebook, twiiter, MySpace, dll
2.      Permainan (game) yang berbau pendidikan (education). Contoh: angklung heroes, game oneline (abigdev), diberikan oleh Fajar
3.      e-Payment. Contoh: gudangdiscount.com
4.      e-Education. Contoh: PesonaEdu, oleh Bambang Yuhono, Sujanto Teng dan Heri Sudyono Chandra
5.      e-Government. Contoh: SAKD 1324 – system akuntansi keuangan daerah, SIMBA-aplikasi pengelolaan barang daerah, dll
6.      game online. Contoh: Game Nusantara Oneline, cerdas-cermat digital
7.      Mobile Aplication. Contoh: Mobinity.net, mobifriends dll.
8.      Mobile conten and advertising. Contoh: m-Banking, m-Iklan, Popmanga.com, domikado, mobile karoke, mobile game, full treck music player, java, ringback tone.text, dll
9.      Software bissiness. Contoh: Rhapsody mampu mengintegrasikan seluruh fungsi pelayanan hotel, mulai dari pemasaran dan reservasi, pront office, banquet, point of sales, back office, finance and accounting, logistic oleh PT Intiwhz Internasional, andal karisma 2007, dll
10.  e-Commerc. Contoh: situs Buukjetty, oleh Heryanto Siatono yang terhubung ke Toko Buku Internet terbesar di dunia yaitu Amazon.com, termasuk ke 300 perpustakaan di 11 negara (AS,Kanada, Australia, Selanadia Baru, Singapura, Hongkong, Taiwan, dll)
11.  digital directory. Contoh:   digital Works oleh Candra Leka dan Taufan Candra Kusuma, layar tancap, gamelan, dll[18]    
Digital preneur tersebut di atas terjadi karena seiring dengan berkembangnya dunia internet, mobile pone dan munculnya smart pone seperti black berry, telah membuat perubahan yang sangat signifikan. Semuanya mengubah budaya, gaya, cara, dan kiat dalam berwirausaha. Dengan demikian terbuka peluang bagi para wirausahawan melirik ke pasar yang disebut dengan dicital. Munculnya penggunaan internet untuk berkomunikasi, melakukan relationship, memasarkan diri dan membentuk kelompok setelah menciptakan generasi baru yang berbasis budaya tegnologi internet yang sering disebut sebagai Netizen. Generasi Netism inilah yang menjadi sebuah komunitas baru yang dibidik oleh para wirausahawan yang bergerak di bidang tegnologi digital. Adapun cirri-ciri Netizen adalah sbb:
a.       Kecanduan internet
b.      Ingin hidup bebas merdeka
c.       Tidak ingin dikontrol kebebasannya
d.      Tidak suka mengontrol yang lain
e.       Usia rata-rata adalah 20-35 tahun
f.       Ia ingin di cusmomised oleh orang lain.
g.      Punya integritas yang tinggi
h.      Punya tingkat kekuasaan yang sama
i.        Sifatnya yang ingin diperhatikan, dikenal, dan diakui siapa dirinya (narsis)
j.        Buadaya instan, ready to use dan mengidolakan keacepatan yang tinggi. [19]
Untuk itulah para wirausahawan muda perlu memperhatikan cirri-ciri generasi Netizen yang baru apabila ingin menjadi seorang digital preneur. Adapun factor-faktor yang memicu digital preneurship adalah sbb:
1.      Murahnya akses internet saat ini, bahkan kini merebak tawaran akses di bawah rp 2.000,00 /hari melalui modem internet, sementara Rp. 5.000,00/hari melalui telepon seluler.
2.      Jumlah pelanggan operator telepon seluler di negeri ini terus meningkat dari tahun ke tahun.
3.      Keterbatasan tenaga pengembangan local yang mumpuni .
4.      Dukungan pemerintah dan perbankan  terhadap dunia ICT
5.      Hamper semua provider dan operator telekomunikasi di Indonesia mengakui bahwa 40%-60% di dominasi oleh face book, Indonesia merupakan peringkat ke 7 dunia dengan 12 juta pengguna face book.
6.      Munculnya komunitas baru berarti munculnya cara pemasaran yang baru melalui face book.
7.      Gelombang perkembangan tegnologi informasi dan komunikasi menawarkan peluang yang semakin luas bagi lahirnya pengusaha-pengusaha baru karena bertambahnya pengguna gadget dan mobilitas kehidupan masyarakat Indonesia yang semakin tinggi.
8.      Murahnya bahasa pemrograman, sederhana, canggih dan mudah didapat.
9.      Dukungan dari vendor-vendor besar seperti Telkom, dengan indigonya yang mempercepat munculnya digital preneurship.
10.  Generasi sekarang yang punya wawasan tegnologi informasi lebih baik dan pandai.
11.  Dalam memulai bisnisnya, tidak perlu membutuhkan modal yang besar (kecuali untuk membesarkannya) [20]
Berdasarkan informasi di atas, digital preneurship bisa muncul dari dalam diri masing-masing individu. Factor-faktor dari dalam individu yang bisa memunculkan berkembangnya digital preneurship adalah sbb:
1.      Hobby akan internet
2.      Keterampilan yang dimilikinya tentang tegnologi informasi, internet, dan komunikasi
3.      Pengetahuan dan latar belakang pendidikan
4.      Lingkungan keluarganya yang terkenal dengan wawasan tegnologi informasi
5.      Kebutuhan pribadi
6.      Pekerjaan yang memungkinkannya untuk sering menggunakan internet
7.      Media yang dibacanya
8.      Merupakan ahli programmer
7.9.Berusaha menjadi Digitalpreneur   
Sebagian besar para digitalpreneur top dan terkenal di dunia seperti pendiri google, face book, friendster, twitter, blogger, adalah bukan semata-mata untuk dibisniskan tetapi lebih dari itu. Ada beberapa tujuan awal dari para digitalpreneur sebelum terciptanya inspirasi bisnisnya untuk dikembangkan lebih besar lagi, yaitu:
1.      Ingin memuaskan  hobbynya terlebih dahulu
2.      Merupakan passion dari individu itu sendiri
3.      Ingin menyelesaikan masalah
4.      Hasrat untuk member ide, keterampilan, dan kemampuannya terhadap lingkungan sekitar
5.      Aktualisasi diri
6.      Punya instuisi yang kuat bahwa idenya itu suatu saat dapat dibisniskan.
Apa yang dijual oleh Digitalpreneur  hingga bisnisnya menjadi besar
Hal penting dari seorang digitalpreneur adalah apa yang akan ditawarkan dan dijualnya, karena ini factor utama kesuksesan perusahaan/pribadi yang memasuki bisnis bernuansa tegnologi informasi. Hal-hal yang perlu diketahui oleh seorang digitalpreneur dalam memulai usahanya adalah; mempelajari apa yang dijualnya dengan meniri para digitalpreneur yang telah sukses, yaitu:
1.      Kreativitas dalam konten (isi atau fitur) yang dijualnya, bisa berupa solusi kebutuhan akan komunitas atau jasa yang bisa membantu komunitas dalam mengatasi masalah.
2.      Inovasi yang ditawarkan
3.      Produk atau jasa yang mutahir dan aspek kecanggihan tegnologinya
4.      Menciptakan tren baru
5.      Komunitas yang ia punyai untuk dipasang iklan (menarik sponsor)
6.      Menjual keterampilannya
7.      Informasi yang terbaru
8.      Keunikan dan perbedaannya
Untuk berkembang, para digitalpreneur perlu mengetahui key success factornya, yaitu:
1.      Keunikan yang sulit tertandingi dalam jangka pendek oleh digitalpreneur
2.      Visi jasa yang jauh ke depan
3.      Kecepatan pertumbuhan komunitasnya harus signifikan dan terus ditingkatkan
4.      Dukungan pemodal besar untuk mempopulerkannya dan mengembangkannya
5.      Value yang ditawarkannya benar-benar sangat bagus
6.      Sulit untuk ditiru oleh orang lain
7.      Pemikiran yang strategis dalam mengembangkan bisnisnya
Keterlibatan anggota gereja dalam entrepreneur yang mendapatangkan kesuksesan ekonomi juga ditopang oleh kesaksian Alkitab. Menjadi entrepreneur Kristen didasarkan atas ajaran Alkitab. Levi Brackman dan Sam Jaffe  Dalam Tomatala (2010) menyatakan  bahwa semua tokoh Alkitab yang berhasil adalah mereka yang memiliki jiwa dan semangat entrepreneur.[21] Misalnya keberhasilan Yusuf (Kej.37:1-11;41:42-45); Yosua (Yos.1:9); Daud (1 Sam. 16:1-13; 18:1-30; 24:5-8; 26:8-12a); dan Lydia
Jadi, ada banyak jenis-jenis entrepreneur yang dapat dilaksanakan oleh setiap orang. Setiap orang memilih jenis-jenis entrepreneur yang cocok dengan pergumulannya atau ketrampilan yang dimiliki.Entrapreneur tidak bertentangan dengan kehendak Tuhan tetapi penerapan gambar dan rupa Allah (Kreatif, Inovatif). Potensi entrepreneur yang ada pada setiap orang memerlukan seorang pemimpin dengan kepemimpinan entrepreneur Kristen. Entrepreneur di makasud di atas untuk mencapai sukses financial dalam kehidupan anggota jemaat. Artinya kesuksesasan finansial tidak hanya bergantung pada usaha mendapat kerja atau mencari kerja tetapi anggota jemaat dapat memberdayakan kemampuan dalam kreativitas dan inovatif sehingga mereka mencapai sukses dalam keuangan keluarga. Kesuksesasan ini juga mempengaruhi gereja.


7.10.     Entrepreneur Rohani Kristen 
            Wirausaha (gagah, berani berusaha mandiri) membuka pos PI dan bukan Kristenisasi. Kita mendapat mandat dari Yesus Kristus untuk memberitakan Injil kepada setiap orang yang belum percaya kepada Yesus Kristus. Keputusan menjadi Kristen adalah hak orang yang mendengar Injil untuk memutuskan menjadi pengikut Yesus Kristus. Tidak ada gunannya Kristenisasi. Yang penting kita lakukan adalah mewartakan berita tentang Yesus Kristus.
            Wirausaha ((gagah, berani berusaha mandiri) bergabung dalam gereja
            Wirausaha (gagah, berani berusaha mandiri) membuka SM
            Wirausaha (gagah, berani berusaha mandiri) bergabung dengan SM yang sdh ada
7.11.     Intra dan Entrepreneur.
Intrapreneur adalah orang yang puny aide, cita-cita, mimpi dalam usaha yang sdh ada (lapangan kerja yang sudah ada), misalnya di PT: ada inovasi dan kreativitas di PT, Gereja, SM dll
Entrepreneur adalah orang yang puny aide, cita-cita, mimpi membuka lapangan kerja (usaha) untuk menolong orang lain: Seperti membuka pos PI, membuka SM, mendirikan STT, membuat program di blog, seperti: Program Reseller (Rahasia Website Pemula), Program Blogger dan Referal seperti BlogSaya.Com dan lain-lain



[1] Kemampuan pemecahan Masalah seorang wirausaha, tersedia dalam, http://www.zainalhakim.web.id/kemampuan-pemecahan-masalah-seorang-wirausaha.html, diakses tanggal, 8/3 2015
[2] Kemampuan pemecahan Masalah seorang wirausaha, tersedia dalam, http://www.zainalhakim.web.id/kemampuan-pemecahan-masalah-seorang-wirausaha.html, diakses tanggal, 8/3 2015
[3] Kemampuan pemecahan Masalah seorang wirausaha, tersedia dalam, http://www.zainalhakim.web.id/kemampuan-pemecahan-masalah-seorang-wirausaha.html, diakses tanggal, 8/3 2015
[4] Kemampuan pemecahan Masalah seorang wirausaha, tersedia dalam, http://www.zainalhakim.web.id/kemampuan-pemecahan-masalah-seorang-wirausaha.html, diakses tanggal, 8/3 2015
[5] Jumlah pengangguran terdidik di Indonesia semakin meningkat,  tersedia dalam http://www.news.padek.co/detail/a/9820, diakses tanggal, 10/3 2015
[7] Jumlah pengangguran terdidik di Indonesia semakin meningkat,  tersedia dalam http://www.news.padek.co/detail/a/9820, diakses tanggal, 10/3 2015
[8]Hendro, Dasar-dasar Kewirausahaan Panduan bagi Mahasiswa untuk Mengenal, Memahami, dan Memasuki Dunia Bisnis (Jakarta: Erlangga, 2014), hlm. 5.
[9] Hendro, Dasar-dasar Kewirausahaan Panduan bagi Mahasiswa untuk Mengenal, Memahami, dan Memasuki Dunia Bisnis (Jakarta: Erlangga, 2014), hlm. 5-6.
[10] Hendro, Dasar-dasar Kewirausahaan Panduan bagi Mahasiswa untuk Mengenal, Memahami, dan Memasuki Dunia Bisnis (Jakarta: Erlangga, 2014), hlm. 5-6.
[11]Hendro, Dasar-dasar Kewirausahaan Panduan bagi Mahasiswa untuk Mengenal, Memahami, dan Memasuki Dunia Bisnis (Jakarta: Erlangga, 2014), hlm. 7-8
[12] Hendro, Dasar-dasar Kewirausahaan Panduan bagi Mahasiswa untuk Mengenal, Memahami, dan Memasuki Dunia Bisnis (Jakarta: Erlangga, 2014), hlm. 9-10
[13] Hendro, Dasar-dasar Kewirausahaan Panduan bagi Mahasiswa untuk Mengenal, Memahami, dan Memasuki Dunia Bisnis (Jakarta: Erlangga, 2014), hlm. 15
[14] Hendro, Dasar-dasar Kewirausahaan Panduan bagi Mahasiswa untuk Mengenal, Memahami, dan Memasuki Dunia Bisnis (Jakarta: Erlangga, 2014), hlm. 15
[15] Hendro, Dasar-dasar Kewirausahaan Panduan bagi Mahasiswa untuk Mengenal, Memahami, dan Memasuki Dunia Bisnis (Jakarta: Erlangga, 2014), hlm. 17
[16] Hendro, Dasar-dasar Kewirausahaan Panduan bagi Mahasiswa untuk Mengenal, Memahami, dan Memasuki Dunia Bisnis (Jakarta: Erlangga, 2014), hlm. 17
[17] Hendro, Dasar-dasar Kewirausahaan Panduan bagi Mahasiswa untuk Mengenal, Memahami, dan Memasuki Dunia Bisnis, (Jakarta: Erlangga, 2014), hlm.184-185
[18] Hendro, Dasar-dasar Kewirausahaan Panduan bagi Mahasiswa untuk Mengenal, Memahami, dan Memasuki Dunia Bisnis (Jakarta: Erlangga, 2014), hlm.536-537
[19] Hendro, Dasar-dasar Kewirausahaan Panduan bagi Mahasiswa untuk Mengenal, Memahami, dan Memasuki Dunia Bisnis, (Jakarta: Erlangga, 2014), hlm.531
[20] Hendro, Dasar-dasar Kewirausahaan Panduan bagi Mahasiswa untuk Mengenal, Memahami, dan Memasuki Dunia Bisnis (Jakarta: Erlangga, 2014), hlm.532
[21] Yakob Tomatala, Spiritual Entrepreneurship, anda juga bisa menjadi Entrepreneur Rohani (Jakarta: YT.Leadership Fondatioan 2010), hlm.IV,V

Tidak ada komentar:

Posting Komentar