Bab 7
Mengatasi Masalah melalu penerapan Entrepreneurship
7.1. Mengatasi
masalah melalui penerapan entrepreneur
Berdasarkan bebrbagai definisi entrepreneur tersebut di
atas, jelaslah bahwa seorang entrepreneur adalah seorang yang mampu mengubah
masalah menjadi peluang kesuksesan. Seorang anggota jemaat atau orang Kristen
tidak dapat terhindar dari masalah sebagaimana yang dialami orang non Kristen.
Ada beragam masalah yang selalu terjadi dalam kehidupan manusia, termasuk
kehidupan orang Kristen. Dalam menghadapi masalah tersebut, seorang
entrepreneur Kristen menjadikannya
sebagai peluang untuk meraih kesuksesan. Jika demikian apa yang dimaksud dengan
masalah dan bagaimana mengubah masalah menjadi peluang kesuksesasan dapat
diperhatikan dalam teori berikut ini.
Menurut Peter F. Drucker dalam website zainal Hakim
menyatakan, masalah dapat timbul akibat ketidakserasian atau suatu
penyimpangan, artinya suatu ketidaksesuaian antara yang ada dengan yang
“seharusnya” atau antara yang ada dengan yang diasumsikan setiap orang. Dengan
kata lain, masalah diartikan sebagai sebuah kumpulan kesulitan ataupun
pertanyaan yang perlu diselesaikan, dihadapi, dan membutuhkan jawaban secara
pasti. [1]
Kebenaran prinsip yang dikemukakan dalam pendapat Peter F.
Drucker tentang masalah tidak dapat disangkal terjadi juga dalam gereja. Ada
masalah dalam kehidupan anggota gereja, khususnya masalah dalam kesuksesasan
finansial dan masalah-masalah yang non financial, seperti kemampuan merintis
pelayanan, masalah-masalah yang berhubungan dengan kerohanian jemaat. Masalah
financial anggota gereja dapat juga mempengaruhi kesuksesasan financial gereja.
Gereja yang hanya terbatas pada financial yang terbatas pada persembahan
anggota jemaat. Ini merupakan beberapa masalah yang perlu diselesaikan melalui
pengembangan semangat jiwa entrepreneur anggota gereja. Untuk mengatasi masalah
diperlukan usaha.
Menurut Geoffrey G. Meredith (1992) usaha
adalah tindakan yang diarahkan dengan menggunakan kekuatan untuk menuju pada
pencapaian tujuan tertentu. Usaha diartikan pula sebagai aktivitas-aktivitas
yang berkelanjutan dan terus menerus mengalami peningkatan dari aktivitas awal
untuk menuju suatu titik pencapaian akhir. Namun dalam dunia bisnis, usaha
diartikan sebagai jumlah atau kualitas dari suatu bidang pekerjaan yang
menghasilkan suatu output dari pemanfaatan sejumlah input. [2]
Dengan demikian dapat diartikan
bahwa masalah usaha adalah suatu kesulitan pada dunia kerja atau bisnis yang
terjadi akibat adanya perbedaan antara apa yang diharapkan dengan apa yang
telah terjadi sehingga menuntut para pelaku bisnis (pekerja) untuk
menyelesaikan kesulitan tersebut dengan sejumlah kekuatan yang dimilki secara
maksimal. [3]
Para wirausahawan hendaknya dapat
menganalisis masalah dengan mengumpulkan data-data, mengolahnya, dan menarik
kesimpulan dari penganalisisan tersebut. Pemecahan masalah dan cara
penyelesaiannya dalam usaha atau bisnis sebenarnya tidak begitu sukar jika
seorang wirausahawan sudah banyak pengalaman di dalam lingkungan usaha atau
bisnisnya. Jika persoalan-persoalan sudah ditentukan dan semua informasi serta
data-data masalah sudah dikumpulkan, seorang wirausahawan harus
mengidentifikasi semua cara pemecahan masalah yang dapat dilaksanakan. Seorang
wirausahawan harus memandang sebuah permasalahan dari berbagai sudut pandang
dan mencari cara baru untuk memecahkan masalahnya. Jika kelompok karyawan
perusahaan mengurangi jumlah masalahnya, di sini wirausahawan harus
mempertimbangkan masalahnya agar menjadi luas dan mendalam. Jika seorang
wirausahawan di dalam usaha atau bisnisnya berniat untuk meninjau lagi semua
pemecahan masalah yang mungkin terdapat di dalam daftar, maka beberapa
pemecahan itu dapat digabungkan, sedangkan pemecahan masalah yang lainnya dapat
dikesampingkan. [4]
7.2.
Mengatasi Masalah bersama di Indonesia
Ada berbagai masalah yang terjadi di Indonesia. Masalah
ini tidak hanya menjadi tanggungjawab pemerintah tetapi setiap komunitas yang
ada dalam negara Republik Indonesia. Salah satu komunitas itu yakni orang
Kristen dalam level komunitas Sekolah Tinggi Teologi. Sekolah Tinggi Teologi
tidak hanya terpanggil untuk membentuk warga akademis dalam pergumulan teologis
vertikal tetapi juga horisontal (sosial kemasyarakatan).
Ada pada setiap warga Kristen kemampuan kreatifitas
dan inovasi. Kemampuan ini merupakan cirri
khas entrepreneur. Kreatifitas dan inovasi adalah kemampuan yang Tuhan
anugerahkan dalam diri manusia sehingga manusia mampu memelihara dan
mengusahakan lingkungan di mana manusia berada dan berinteraksi. Melalui
kreatifitas tersebut mansia mampu mengubah tantangan/kesulitan hidup menjadi
peluang meraih kesuksesan. Mulculnya kreativitas berhubungan dengan konteks
yang dihadapi manusia. Dalam hal ini kepemimpinan entrepreneur Kristen di
Indonesia dibutuhkan karena beberapa hal yang dihadapi di Indonesia. Salah
satunya adalah pengangguran yang juga menjadi masalah bagi gereja. Dalam
konteks ini butuh seorang pemimpin Kristen yang mempunyai mimpi. Seorang
pemimpin entrepreneur Kristen adalah seorang pemimpi yang hendak mewujudkan
mimpinya menjadi kenyataan atau menjadi sukses di Indonesia. Seorang pemimpin
yang melaksanakan kepemimpinan entrepreneur Kristen adalah seorang yang berani
menciptakan peluang bagi orang lain di tengah-tengah masalah pengangguran.
Dalam konteks pemahaman yang demikian maka hal-hal yang mendorong kepemimpinan
entrepreneur Kristen adalah memahami realitas di Indonesia. Realitas itu
dijelaskan sebagai berikut.
7.3.Meminimalisasi
Pengangguran
terdidik
Seorang entrepreneur
Kristen mesti memperhatikan realitas di Indonesia.
Salah satu realitas yaitu kesulitan mendapat kerja sehingga mengakibatkan
pengangguran. Hendro memakai istilah pengangguran terdidik. Menurutnya, salah
satu realitas di Indonesia yang tidak dapat disangkal yakni Indonesia dihadapkan pada bahaya atau ancaman pengangguran yang
disebut dengan pengangguran terdidik yang semakin tinggi. Pengangguran adalah
orang yang tidak bekerja sama sekali, sedang mencari kerja, atau seseorang yang
sedang berusaha mendapatkan pekerjaan yang layak. Banyak factor yang
menyebabkan terjadinya pengangguran. Salah satu yakni jumlah angkatan kerja
atau para pencari kerja tidak sebanding dengan jumlah lapangan kerja yang dapat
menampung tenaga kerja. Pengangguran terdidik sebagaimana yang dimaksud di atas
adalah seorang yang telah lulus pendidikan dan ingin mendapatkan pekerjaan
tetapi belum dapat memperolehnya. Para penganggur terdidik umumnya dari
kelompok masyarakat menengah keatas yang memungkinkan adanya jaminan kelangsungan
hidup meski menganggur.[5]
Angka pengangguran pemuda terdidik mencapai 47,81 persen dari total
angka pengangguran nasional. Lulusan perguruan tinggi yang diharapkan
mendapat pekerjaan atau mampu menciptakan kerja ternyata tidak mampu mendapat
pekerjaan dan menciptakan lapangan kerja. Apa yang terjadi yakni bahwa lulusan
perguruan tinggi menduduki peringkat pengangguran terdidik tertinggi yaitu
diperkirakan di level 5,8- 6,1 persen pada 2014 cukup realistis dengan asumsi
pertumbuhan ekonomi dikisaran 6,8-7,2 persen dimana setiap 1 persen pertumbuhan
ekonomi dapat menciptakan lebih dari 350.000 kesempatan kerja. Beberapa
penyebab antara lain perguruan tinggi merencanakan pengembangan pendidikan
kurang selaras dengan perkembangan lapangan kerja.[6]
Selain itu, pola pikir mahasiswa yang selalu ingin menjadi pekerja/pegawai.
Paradigma yang dimiliki yakni setelah lulus kuliah, mencari pekerjaan bukan
bisa membuat lapangan pekerjaan sendiri melalui wirausaha. [7]
Selain itu, warga masyarakat yang berpendidikan
rendah juga rentan terhadap pengangguran. Dalam riset teoritik yang dilakukan
Hendro diperoleh infrormasi bahwa sebanyak 55 % angkatan kerja nasional adalah
lulusan SD, SMA dan sederajat , kemudian lulusan sarjana yang kini semakin banyak.
Sementara pertumbuhan lapangan kerja
lamban dan arus modal dari luar negeri rendah. Realitas empiris ini menuntut
para lulusan SMA dan Perguruan Tinggi membekali diri dengan sejumlah kemampuan untuk
menciptakan lapangan kerja. Kemampuan itu akan diperoleh bila seseorang
mendapat pengetahuan entrepreneur dan berusaha mengembangkannya. Melalui ilmu
entrepreneurship tercipta mindset di
dalam diri para lulusan perguruan tinggi untuk tidak hanya berorientasi pada
mencari kerja saja, tetapi mampu menciptakan lapangan kerja. Pilihan menciptakan
lapangan kerja terbukti menghasilkan pendapatan yang lebih besar daripada
pilihan berkarir, mencari kerja, atau menjadi karyawan. Hal ini bisa tercapai
bila setiap orang, khususnya warga gereja dibekali dengan pengetahuan, wawasan,
keterampilan, pola piker, strategi, dan taktik yang mumpuni, yaitu entrepreneur
yang cerdas. Perlu diketahui bahwa bahwa
80 % orang berhasil atau menjadi kayak arena berwira usaha.[8]
Apa yang dideskripsikan di atas
bersifat umum tetapi sudah dan sedang dan akan dihadapi oleh warga Gereja di
Indonesia. Warga gereja juga pasti menghadapi kenyataan adanya lapangan kerja
yang terbatas karena adanya krisis global. Dalam hal ini krisis global
menyebabkan terjadinya pengangguran terdidik. Tidak semua warga gereja menjadi
pegawai negeri, sementara menjadi pegawai negeri peluangnya sangat terbatas.
Warga gereja yang tidak mempunyai penghasilan pastilah menjadi masalah.
Sementara Alkitab menyatakan bahwa manusia dicipta segambar dan serupa
dengan-Nya. Maka warga jemaat juga memiliki kemampuan untuk tidak hanya mencari
lapangan kerja tetapi mampu menciptakan lapangan kerja dengan cara
mengembangkan semangat entrepreneur dalam diri anggota jemaat. Untuk maksud
inilah maka diperlukan seorang pemimpin yang mampu memimpin warga gereja dengan
kepemimpinan entrepreneur Kristen.
Kepemimpinan entrepreneur Kristen
tidak hanya mendorong Gereja bernyanyi dalam ibadah dengan nyanyian: Betapa
kita tidak bersyukur bertanah air kaya dan subur dan syair selanjutnya, tetapi
harus bertindak mempersiapkan warga jemaat mewujudkan kemampuan mengusahakan
dan memelihara (inovasi dan kreativitas) yang telah Tuhan berikan kepada setiap
orang (bnd. Kej. 2:15). Kepemimpinan entrepreneur Kristen dalam merespon
realitas pengangguran karena terbatasnya dunia kerja hendaknya mampu mendorong
dan mewujudkan anggota jemaat untuk menciptakan usaha atau mampu menciptakan
lapangan kerja melalui usaha dalam sakala kecil sampai besar.
Pengangguran tidak hanya ada di luar anggota jemaat
tetapi juga dalam anggota jemaat. Gereja dari waktu ke waktu bergumul dalam
menolong anggota jemaat yang tidak mempunyai pekerjaan. Salah satu ilmu yang
dapat menolong kesadaran dan perwujudannya adalah entrepreneur. Entrepreneur
bertujuan untuk mengurangi pengangguran. Walaupun demikian, para pengajar
entrepreneur memperingatkan bahwa entrepreneur bukan merupakan ilmu ajaib yang
mendatankan uang dalam sekejab (budaya instan yang melanda negeri ini), tetapi
entrepreneur merupakan sebuah ilmu, seni, dan keterampilan untuk mengelola semua
keterbatasan sumber daya, informasi, dan dana yang ada guna mempertahankan
hidup, mencari nafkah (penghasilan yang
memadai) atau meraih posisi puncak dalam karier
melalui sebuah proses waktu yang relatif panjang. [9]
Bila satu orang lulusan perguruan tinggi menjadi
wirausaha, maka kemungkinan ia akan mencari temannya sebagai patner dan mungkin
salah satu temannya akan diajak untuk menjadi karyawan (bekerja kepadanya).
Jika jumlah lulusan yang menjadi wirausaha adalah 10 %, maka yang akan
bergabung dengannya bias menjadi 20 % ( satu partner dan satu karyawan). Dengan
demikian jumlah pencari kerja angkatan tahun tersebut otomatis berkurang 30 %. [10]
7.4.
Manfaat
mempersiapkan
diri dengan entrepreneur
Dalam
perguruan tinggi dan dunia pendidikan, tujuan mempelajari entrepreneurship
yaitu: yaitu :
a. Pendidikan
saja sudah tidak cukup mempersiapkan seseorang untuk sukses di masa depan. Berbagai
kesulitan akan dihadapi seseorang, maka dibutuhkan orang-orang yang sanggup
mengubah kesulitan menjadi peluang dan memberi kontribusi bagi usaha.
b. Entrepreneur
dapat diterapkan di semua bidang pekerjaan dan kehidupan. Dengan demikian, entrepreneur
sangat berguna sebagai persiapan masa depan mahasiswa bila ingin berkarir di
bidang apapun.
c. Mempersiapkan
para lulusan sekolah/perguruan tinggi untuk mampu menghadapi kesulitan
mendapatkan pekerjaan atau terkena PHK, dan menjadikan entrepreneurship sebagai
langkah alternative untuk mencari nafkah untuk bertahan hidup.
d. Demi
sukses di dunia usaha/kerja, tidak cukup bagi seseorang pandai bicara tetapi perlu membuktikannya
dalam tindakan nyata. Oleh karena itu entrepreneurship adalah ilmu nyata yang
dapat menolong mewujudkan mimpi.
e. Memajukan
perekonomian Indonesia dan menjadi lokomotif peningkatan kesejahteraan dan
kemakmuran bangsa Indonesia.
f. Meningkatkan
pendapatan keluarga dan daerah yang akan berujung pada kemajuan ekonomi bangsa.
g. Membudayakan
sikap unggul, perilaku positif, dan kreatif.
h. Menjadi
bekal ilmu untuk mencari nafkah, bertahan hidup, dan berkembang.[11]
Setiap ilmu lahir dari proses berpikir, dan diuji
melalui berbagai metode ilmiah yang dipergunakan dalam menghasilkan ilmu
pengetahuan tersebut. Dalam hal ini, entrepreneur sebagai sebuah disiplin ilmu
yang mandiri, dipelajari di perguruan tinggi sebagai mata kuliah, pastilah
mempunyai manfaat bagi dunia akademis maupun dunia praktikal, termasuk dunia
gereja. Gereja mengimani bahwa TUHAN menciptakan manusia segambar dan serupa
dengan pencipta. Salah satu kemampuan yang diberi Tuhan kepada manusia adalah
kemampuan berpikir. Melalui kemampuan berpikir tersebut manusia menaklukkan
alam semesta dan isinya untuk memuliakan Tuhan, dan melangsungkan kehidupan
jasmani selama hidup di dunia.
Dunia di mana Gereja/anggota jemaat hidup dan
berinteraksi merupakan dunia di mana kesulitan dan kesuksesan di alami
seseorang secara silih berganti. Artinya tidak ada orang yang selamanya hidup
sukses tanpa melalui kesulitan. Kesulitan pasti dihadapi gereja (anggota
jemaat), namun bagaimana mengubah kesulitan menjadi sebuah peluang yang olehnya
anggota gereja menikmati pemenuhan doa Bapa Kami “mendapat makanan secukupnya”
(bnd. Mat. 6:9). Kemampuan mengubah tantangan menjadi peluang menjadi
konsentrasi dari ilmu entrepreneurship. Seorang pemimpin entrepreneurship
Kristen mampu memimpin anggota jemaat memaksimalkan kemampuan entrepreneur yang
merupakan anugerah Tuhan dalam diri setiap orang. Semua anggota memiliki
kemampuan entrepreneur. Mereka membutuhkan pemimpin dengan kepemimpinan
entrepreneur Kristen.
Beberapa kemanfaatan dari ilmu entreprenership yang
dikemukakan di atas tidaklah diterima secara utuh tanpa seleksi Kristiani.
Maksudnya beberapa poin dari manfaat entrepreneur tersebut di atas perlu
dinilai berdasarkan iman Kristen yang didasarkan pada Alkitab. Prinsip-prinsip
tersebut di atas tidak boleh membuat entrepreneur Kristen menjadi
antroposentris karena kesuksesan tidak semata-mata bergantung pada usaha
manusia tetapi kesuksesan juga berhubungan dengan kehendak Tuhan. Akan tetapi
prinsip teologis ini juga tidak boleh mengabaikan peran manusia di dalamnya.
Maksud usaha manusia untuk meraih kesuksesan itu penting tetapi tetap
menempatkan Tuhan sebagai pribadi yang berkarya untuk kesuksesan seseorang.
Manfaat entrepreneur dapat diperhatikan dalam nasehat-nasehat Amsal.
7.5. Peluang
Entrepreneur Kristen di Indonesia
Kepemimpinan
entrepreneur Kristen ada karena anggota gereja (orang Kristen) sebagai makluk
yang dicipta segambar dan serupa dengan pencipta, memiliki potensi dalam
menghadapi berbagai kondisi yang berlangsung selama hidup. Anggota gereja tidak
hanya memiliki peluang sukses tetapi juga menghadapi berbagai kesulitan,
akibatnya ada sebagian anggota gereja yang gagal meraih kesuksesan financial.
Kesuksesan financial juga merupakan bagian dari isi doa Bapa Kami (bnd. Mat.
6:9). Namun untuk mencapai pemenuhan doa Tuhan Yesus: “Berikanlah kami hari ini
makanan kami secukupnya”, berkait erat dengan kemampuan memberdayakan
mandate budaya (bekerja pada lapangan
kerja yang sudah tersedia/intrapreneur atau menciptakan peluang
kerja/entrepreneur).
Memahami
akan realitas di Indonesia yang masih terus berjuang dengan mengatasi
pengangguran maka peluang entrepreneur di Indonesia bagi warga gereja sangat
terbuka. Dengan kata lain, memberdayakan kemampuan kreatif anggota gereja
sehingga mampu menciptakan lapangan kerja bagi orang lain yang sedang mencari
kerja menjadi hal yang sangat dimungkinkan di Indonesia. Artinya bila anggota
gereja mampu berwirausaha/menciptakan suatu usaha kecil yang akan berkembang
menjadi usaha yang besar dan mampu menampung banyak tenaga kerja maka
sebenarnya gereja sudah berjuang untuk menolong mengatasi pengangguran.
Menurut
pengamatan Hendro, entrepreneur belum berkembang secara maksimal di Indonesia.
Hal ini disebabkan karena pola berpikir
yang salah. Kesalah yang dimaksud yakni aksi tanpa didukung oleh
factor-faktor lain yang menopang kesuksesan dalam entrepreneur. Kesuksesan
dalam entrepreneur bukan hanya modal keberanian, nekat tetapi juga dukungan
financial. Entrepreneur Indonesia yang sukses ditopang oleh factor utama yaitu
: tempaan waktu dan kerja keras yang tidak kenal menyerah, dan modal yang cukup dan terus-menerus dukucurkan
dan akhirnya sukses.[12]
7.6.
Kesiapan
Memasuki era ekonomi berbasis entrepreneur
Gereja mesti memiliki kesiapan menghadapi berbagai
tantangan, khususnya krisis keuangan. Beberapa tahun yang lalu bahkan kini,
krisis keuangan tersebut masih menjadi pergumulan. Keadaan demikian membutuhkan
kesiapan gereja untuk menghadapinya dalam semangat entrepreneur. Kepemimpinan
Kristen perlu mempersiapkan warga gereja dengan kemampuan entrepreneur untuk
menghadapi berbagai kesulitan yang terjadi.
Menurut Hendro, perekonomian Indonesia pada saat ini
dan di masa yang akan datang akan dimotori oleh para tamatan perguruan tinggi
dengan semangat, hoby, dan cita-cita menjadi entrepreneur. Bila beberapa waktu
terdahulu, seseorang yang lulus dari perguruan tinggi dengan cita-cita menjadi seorang professional sukses, memiliki
kedudukan yang baik dan mapan di perusahaan besar, terkemuka, dan mempunyai
banyak cabang. Akan tetapi kenyataan yang terjadi sekarang yakni kondisi dan
situasi yang cukup sulit untuk mewujudkan mimpi tersebut, maka hal ini
mendorong para lulusan perguruan tinggi untuk menjadi young entrepreneur. [13]
Jadi, meraih kesuksesan tidak hanya memlaui pekerjaan
professional (bekerja di perusahan dengan jabatan-jabatan yang menjamin
penghasilan tetap setiap bulan), tetapi kesuksesan juga dapat dicapai melalui
kemampuan merubah kesulitan menjadi peluang kesuksesan. Mampu mengubah mental
merasa nyaman bila mendapat pekerjaan di perusahan dan mendaat gaji bulanan,
tetapi mengubahnya dengan mampu menciptakan kerja baru yang menolong kesuksesan
dan memberi peluang kerja kepada orang lain. Dengan demikian pengangguran
diminimalisasi.
Kepemimpinan entrepreneur Kristen mampu mempersiapkan anggota gereja, khususnya
yang hendak menyelesaikan studi dalam jenjang pendidikan tertentu agar mampu
menghadapi berbagai kesulitan dalam meraih kesuksesan financial yang pada
akhirnya menolong ekonomi gereja. Sedangkan anggota gereja yang oleh karena
satu dan lain alasan tidak memiliki peluang menyelesaikan studi dalam tingkatan
pendidikan tertentu, merekapun dapat dipersiapkan secara baik dalam semangat
entrepreneur. Realitas bahwa ada anggota jemaat yang sulit mendapat pekerjaan di
perusahan dan menjadi pegawai negeri tidak dapat diabaikan. Masih ada anggota
gereja yang belum mendapat kerja, dan terus mencari kerja. Kepada mereka perlu
dibimbing dalam semangat entrepreneur sehingga mereka mampu menciptakan peluang
usaha yang melaluinya mereka mendapat kesuksesan financial. Bila mereka sukses
financial melalui kemampuan menciptakan peluang kerja maka gereja tertolong
dalam kemandirian dana. Dikatakan demikian karena salah satu sumber dana gereja
adalah persembahan anggota jemaat. Semakin anggota jemaat mewujudkan kemampuan
entrepreneur maka semakin bertambah persembahan ke Gereja.
Para entrepreneur muda dalam gereja ditolong melalui
kepemimpinan entrepreneur sehingga memiliki kesiapan dan kemampuan berjuang
memulai usaha yang diawali dari skala kecil (dalam arti omset kecil), dan dikelola dengan serius
dan manajemen yang baik, maka usahanya pasti semakin maju. Kesiapan memasuki era ekonomi
berbasis entrepreneur menolong anggota gereja, khususnya entrepreneur muda
dalam gereja untuk tidak hanya menjadi ekor dalam sebuah usaha tetapi menjadi
kepala atau bos untuk dirinya sendiri.
Hendro menyatakan: para entrepreneur muda tidak
ingin menjadi bagian kecil dalam sebuah unit usaha tetapi ingin menjadi bos
untuk dirinya sendiri. Entrepreneur yang sukses bukan cuma milik orang tua. Akan
tetapi orang-orang muda pun dapat menjadi entrepreneur-entrepreneur yang
sukses.[14]
Jadi, tidak ada anggota jemaat yang tidak dapat
menjadi entrepreneur atau tidak siap memasuki era ekonomi berbasis entrepreneur.
Anggota jemaat memiliki entrepreneur. Oleh karena itu mereka membutuhkan
kepemimpinan entrepreneur Kristen yang mampu mengarahkan mereka meraih
kesuksesan financial.
7.7.
Kemampuan
memberdayakan Potensi Diri
Perlu dipahami bahwa entrepreneur adalah kemampuan
memberdayakan semua kemampuan yang ada pada setiap orang. Kemampuan
entrepreneur yang dimaksud yakni kemampuan yang merupakan kombinasi dari
pengetahuan akademis dan kreatifitas atau cara mengelola kesulitan menjadi
peluang sukses. Kemampuan demikian disebut
dengan entrepreneurial skill (kemampuan entrepreneur) yaitu kemampuan untuk
mengatasi kesulitan, hambatan dan tantangan agar tidak mengalami kegagalan
lagi. Dengan kata lain kemampuan entrepreneur adalah usaha membuktikan dalam tindakan nyata. Dalam hal ini pengetahuan
akdemis saja tidaklah cukup untuk menolong seseorang menghadapi kesulitan
hidup, perlu ada kemampuan (skill) atau keahlian yang melengkapi kehidupan
seseorang yang menolongnya untuk menjadi sukses.[15]
Jadi,
keterampilan entrepreneurial adalah perpaduan pengetahuan akademis dan kreatifitas (cara
mengelola) / kemampuan untuk mengelola, memberdayakan, dan memanfaatkan
pengetahuan akademis dalam mengatasi masalah, kesulitan, dan tantangan yang
dihadapi oleh seseorang. Dalam hal ini, kreatifitas
dan inovasi berfungsi melengkapi seseorang untuk sukses dalam melaksanakan
entrepreneur. Dengan kata lain seorang entrepreneur adalah seorang yang
memiliki kreatifitas yaitu kemampuan mengelola, memberdayakan, dan menggunakan
pengetahuan apapun yang ia miliki, informasi, pengalaman, dan keterampilan
lainnya untuk mengatasi kesulitan yang
dihadapinya dan dengan kemampuan kreativitas mampu mengubah kesulitan yang
dihadapinya menjadi peluang sukses. Henro mengemukakan sebuah pemahaman yang baik
antara pengetahuan dan kreativitas dengan menyatakan, pengetahuan adalah
perkakas dan kreatifitas adalah cara memasak untuk membuat segalanya terselesiakan dengan baik. Kemampuan
entrepreneurial juga merupakan penggabungan dari dua sisi kemampuan seseorang untuk
mengatasi kesulitan dan tantangan usaha.[16]
Jadi, kepemimpinan entrepreneur Kristen adalah kepemimpinan yang memberdayakan
kreativitas dan inovasi dalam diri setiap orang Kristen. Untuk itu perlu
memperhatikan teori kreativitas dan inovasi berikut ini.
7.8.Mengusakan Entrepreneur Sesuai
Passion Jemaat
Seorang pemimpin yang
menerapkan kepemimpinan entrepreneur Kristen hendaknya mendorong anggota jemaat
untuk melakukan usaha sesuai dengan jenis entrepreneur yang cocok dengan
pergumulan dan ketrampilan teknis (technical skill) yang mendukungnya.
|
No
|
Jenis
Entrepreneur
|
Ketrampilan
yang mendukung (Ketrampilan teknis)
|
|
1
|
Usaha restoran
|
Memasak
|
|
2
|
Usaha Konfeksi
|
Mendesain dan menjahit
|
|
3
|
Usaha distribusi
|
Menjual dan memasarkan
|
|
4
|
Usaha servis komputer
|
Ketrampilan mengenai komputer
|
|
5
|
digitalpreneur
|
Ketrampilan usaha online:
Memahami internet, domain, hosting
|
Dalam
melaksanakan entrepreneur diperlukan ketrampilan teknis. Ketrampilan teknis ini
sangat penting sebagai ketrampilan inti dalam membangun kemampuan kewirausahaan. [17]
Dalam setiap jenis bisnis, pasti ada keterampilan teknis yang diperlukan
sebagai ketrampilan intinya (Specialist skill). Dalam Alkitab ada beberpa
contoh entrepreneur. Paulus, seorang rasul yang seharusnya memiliki hak ekonomi
tetapi ia memilih mencukupi kebutuhan pelayanan berdasarkan jenis entrepreneur
yaitu “membuat tenda”. Jenis entrepreneur ini cocok bagi Paulus, sebaliknya
Paulus tidak bisa dipaksa berusaha dalam entrepreneur dalam bidang pengusaha
kain seperti Lidya dari Tiatira. Contoh umum, seorang anggota jemaat yang punya
“passion” dalam memasak sebaiknya membuka usaha dalam bidang rumah makan dan
lain-lain.
Bagi anggota jemaat atau orang Kristen yang memiliki
jiwa entrepreneur dan passion dalam digital maka dapat mengembangkan digital entrepreneur.
Digitalpreneur yang dapat digumuli oleh anggota gereja seperti:
1. Situs
jejaring social dan media yang menjual komunitasnya. Contoh: friendster,
facebook, twiiter, MySpace, dll
2. Permainan
(game) yang berbau pendidikan (education). Contoh: angklung heroes, game
oneline (abigdev), diberikan oleh Fajar
3. e-Payment.
Contoh: gudangdiscount.com
4. e-Education.
Contoh: PesonaEdu, oleh Bambang Yuhono, Sujanto Teng dan Heri Sudyono Chandra
5. e-Government.
Contoh: SAKD 1324 – system akuntansi keuangan daerah, SIMBA-aplikasi
pengelolaan barang daerah, dll
6. game
online. Contoh: Game Nusantara Oneline, cerdas-cermat digital
7. Mobile
Aplication. Contoh: Mobinity.net, mobifriends dll.
8. Mobile
conten and advertising. Contoh: m-Banking, m-Iklan, Popmanga.com, domikado,
mobile karoke, mobile game, full treck music player, java, ringback tone.text,
dll
9. Software
bissiness. Contoh: Rhapsody mampu mengintegrasikan seluruh fungsi pelayanan
hotel, mulai dari pemasaran dan reservasi, pront office, banquet, point of
sales, back office, finance and accounting, logistic oleh PT Intiwhz
Internasional, andal karisma 2007, dll
10. e-Commerc.
Contoh: situs Buukjetty, oleh Heryanto Siatono yang terhubung ke Toko Buku
Internet terbesar di dunia yaitu Amazon.com, termasuk ke 300 perpustakaan di 11
negara (AS,Kanada, Australia, Selanadia Baru, Singapura, Hongkong, Taiwan, dll)
11. digital
directory. Contoh: digital Works oleh
Candra Leka dan Taufan Candra Kusuma, layar tancap, gamelan, dll[18]
Digital preneur tersebut di atas terjadi karena seiring
dengan berkembangnya dunia internet, mobile pone dan munculnya smart pone
seperti black berry, telah membuat perubahan yang sangat signifikan. Semuanya
mengubah budaya, gaya, cara, dan kiat dalam berwirausaha. Dengan demikian
terbuka peluang bagi para wirausahawan melirik ke pasar yang disebut dengan
dicital. Munculnya penggunaan internet untuk berkomunikasi, melakukan
relationship, memasarkan diri dan membentuk kelompok setelah menciptakan
generasi baru yang berbasis budaya tegnologi internet yang sering disebut
sebagai Netizen. Generasi Netism inilah yang menjadi sebuah komunitas baru yang
dibidik oleh para wirausahawan yang bergerak di bidang tegnologi digital.
Adapun cirri-ciri Netizen adalah sbb:
a. Kecanduan
internet
b. Ingin
hidup bebas merdeka
c. Tidak
ingin dikontrol kebebasannya
d. Tidak
suka mengontrol yang lain
e. Usia
rata-rata adalah 20-35 tahun
f. Ia
ingin di cusmomised oleh orang lain.
g. Punya
integritas yang tinggi
h. Punya
tingkat kekuasaan yang sama
i.
Sifatnya yang ingin
diperhatikan, dikenal, dan diakui siapa dirinya (narsis)
j.
Buadaya instan, ready
to use dan mengidolakan keacepatan yang tinggi. [19]
Untuk
itulah para wirausahawan muda perlu memperhatikan cirri-ciri generasi Netizen
yang baru apabila ingin menjadi seorang digital preneur. Adapun factor-faktor
yang memicu digital preneurship adalah sbb:
1. Murahnya
akses internet saat ini, bahkan kini merebak tawaran akses di bawah rp 2.000,00
/hari melalui modem internet, sementara Rp. 5.000,00/hari melalui telepon
seluler.
2. Jumlah
pelanggan operator telepon seluler di negeri ini terus meningkat dari tahun ke
tahun.
3. Keterbatasan
tenaga pengembangan local yang mumpuni .
4. Dukungan
pemerintah dan perbankan terhadap dunia
ICT
5. Hamper
semua provider dan operator telekomunikasi di Indonesia mengakui bahwa 40%-60%
di dominasi oleh face book, Indonesia merupakan peringkat ke 7 dunia dengan 12
juta pengguna face book.
6. Munculnya
komunitas baru berarti munculnya cara pemasaran yang baru melalui face book.
7. Gelombang
perkembangan tegnologi informasi dan komunikasi menawarkan peluang yang semakin
luas bagi lahirnya pengusaha-pengusaha baru karena bertambahnya pengguna gadget
dan mobilitas kehidupan masyarakat Indonesia yang semakin tinggi.
8. Murahnya
bahasa pemrograman, sederhana, canggih dan mudah didapat.
9. Dukungan
dari vendor-vendor besar seperti Telkom, dengan indigonya yang mempercepat
munculnya digital
preneurship.
10. Generasi sekarang yang punya wawasan tegnologi informasi lebih
baik dan pandai.
11. Dalam memulai bisnisnya, tidak perlu membutuhkan modal yang besar
(kecuali untuk membesarkannya)
[20]
Berdasarkan informasi di atas, digital preneurship
bisa muncul dari dalam diri masing-masing individu. Factor-faktor dari dalam
individu yang bisa memunculkan berkembangnya digital preneurship adalah sbb:
1. Hobby
akan internet
2. Keterampilan
yang dimilikinya tentang tegnologi informasi, internet, dan komunikasi
3. Pengetahuan
dan latar belakang pendidikan
4. Lingkungan
keluarganya yang terkenal dengan wawasan tegnologi informasi
5. Kebutuhan
pribadi
6. Pekerjaan
yang memungkinkannya untuk sering menggunakan internet
7. Media
yang dibacanya
8. Merupakan
ahli programmer
7.9.Berusaha
menjadi Digitalpreneur
Sebagian
besar para digitalpreneur top dan terkenal di dunia seperti pendiri google,
face book, friendster, twitter, blogger, adalah bukan semata-mata untuk
dibisniskan tetapi lebih dari itu. Ada beberapa tujuan awal dari para
digitalpreneur sebelum terciptanya inspirasi bisnisnya untuk dikembangkan lebih
besar lagi, yaitu:
1. Ingin
memuaskan hobbynya terlebih dahulu
2. Merupakan
passion dari individu itu sendiri
3. Ingin
menyelesaikan masalah
4. Hasrat
untuk member ide, keterampilan, dan kemampuannya terhadap lingkungan sekitar
5. Aktualisasi
diri
6. Punya
instuisi yang kuat bahwa idenya itu suatu saat dapat dibisniskan.
Apa
yang dijual oleh Digitalpreneur hingga
bisnisnya menjadi besar
Hal
penting dari seorang digitalpreneur adalah apa yang akan ditawarkan dan
dijualnya, karena ini factor utama kesuksesan perusahaan/pribadi yang memasuki
bisnis bernuansa tegnologi informasi. Hal-hal yang perlu diketahui oleh seorang
digitalpreneur dalam memulai usahanya adalah; mempelajari apa yang dijualnya
dengan meniri para digitalpreneur yang telah sukses, yaitu:
1. Kreativitas
dalam konten (isi atau fitur) yang dijualnya, bisa berupa solusi kebutuhan akan
komunitas atau jasa yang bisa membantu komunitas dalam mengatasi masalah.
2. Inovasi
yang ditawarkan
3. Produk
atau jasa yang mutahir dan aspek kecanggihan tegnologinya
4. Menciptakan
tren baru
5. Komunitas
yang ia punyai untuk dipasang iklan (menarik sponsor)
6. Menjual
keterampilannya
7. Informasi
yang terbaru
8. Keunikan
dan perbedaannya
Untuk
berkembang, para digitalpreneur perlu mengetahui key success factornya, yaitu:
1. Keunikan
yang sulit tertandingi dalam jangka pendek oleh digitalpreneur
2. Visi
jasa yang jauh ke depan
3. Kecepatan
pertumbuhan komunitasnya harus signifikan dan terus ditingkatkan
4. Dukungan
pemodal besar untuk mempopulerkannya dan mengembangkannya
5. Value
yang ditawarkannya benar-benar sangat bagus
6. Sulit
untuk ditiru oleh orang lain
7. Pemikiran
yang strategis dalam mengembangkan bisnisnya
Keterlibatan anggota gereja dalam entrepreneur yang
mendapatangkan kesuksesan ekonomi juga ditopang oleh kesaksian Alkitab. Menjadi
entrepreneur Kristen didasarkan atas ajaran Alkitab. Levi Brackman dan Sam
Jaffe Dalam Tomatala (2010)
menyatakan bahwa semua tokoh Alkitab
yang berhasil adalah mereka yang memiliki jiwa dan semangat entrepreneur.[21]
Misalnya keberhasilan Yusuf (Kej.37:1-11;41:42-45); Yosua (Yos.1:9); Daud (1
Sam. 16:1-13; 18:1-30; 24:5-8; 26:8-12a); dan Lydia
Jadi, ada banyak jenis-jenis entrepreneur yang dapat
dilaksanakan oleh setiap orang. Setiap orang memilih jenis-jenis entrepreneur
yang cocok dengan pergumulannya atau ketrampilan yang dimiliki.Entrapreneur
tidak bertentangan dengan kehendak Tuhan tetapi penerapan gambar dan rupa Allah
(Kreatif, Inovatif). Potensi entrepreneur yang ada pada setiap orang memerlukan
seorang pemimpin dengan kepemimpinan entrepreneur Kristen. Entrepreneur di
makasud di atas untuk mencapai sukses financial dalam kehidupan anggota jemaat.
Artinya kesuksesasan finansial tidak hanya bergantung pada usaha mendapat kerja
atau mencari kerja tetapi anggota jemaat dapat memberdayakan kemampuan dalam
kreativitas dan inovatif sehingga mereka mencapai sukses dalam keuangan
keluarga. Kesuksesasan ini juga mempengaruhi gereja.
7.10.
Entrepreneur
Rohani Kristen
Wirausaha
(gagah, berani berusaha mandiri) membuka pos PI dan bukan Kristenisasi. Kita mendapat mandat dari Yesus Kristus untuk
memberitakan Injil kepada setiap orang yang belum percaya kepada Yesus Kristus.
Keputusan menjadi Kristen adalah hak orang yang mendengar Injil untuk
memutuskan menjadi pengikut Yesus Kristus. Tidak ada gunannya Kristenisasi.
Yang penting kita lakukan adalah mewartakan berita tentang Yesus Kristus.
Wirausaha
((gagah, berani berusaha mandiri) bergabung
dalam gereja
Wirausaha
(gagah, berani berusaha mandiri) membuka SM
Wirausaha
(gagah, berani berusaha mandiri) bergabung dengan SM yang sdh ada
7.11. Intra dan Entrepreneur.
Intrapreneur adalah orang yang puny aide, cita-cita,
mimpi dalam usaha yang sdh ada (lapangan kerja yang sudah ada), misalnya di PT:
ada inovasi dan kreativitas di PT, Gereja, SM dll
Entrepreneur adalah orang yang puny aide, cita-cita,
mimpi membuka lapangan kerja (usaha) untuk menolong orang lain: Seperti membuka
pos PI, membuka SM, mendirikan STT, membuat program di blog, seperti: Program
Reseller (Rahasia Website Pemula), Program Blogger dan Referal seperti
BlogSaya.Com dan lain-lain
[1] Kemampuan pemecahan
Masalah seorang wirausaha, tersedia dalam, http://www.zainalhakim.web.id/kemampuan-pemecahan-masalah-seorang-wirausaha.html, diakses tanggal, 8/3
2015
[2] Kemampuan pemecahan
Masalah seorang wirausaha, tersedia dalam, http://www.zainalhakim.web.id/kemampuan-pemecahan-masalah-seorang-wirausaha.html, diakses tanggal, 8/3
2015
[3] Kemampuan pemecahan
Masalah seorang wirausaha, tersedia dalam, http://www.zainalhakim.web.id/kemampuan-pemecahan-masalah-seorang-wirausaha.html, diakses tanggal, 8/3
2015
[4] Kemampuan pemecahan
Masalah seorang wirausaha, tersedia dalam, http://www.zainalhakim.web.id/kemampuan-pemecahan-masalah-seorang-wirausaha.html, diakses tanggal, 8/3
2015
[5] Jumlah
pengangguran terdidik di Indonesia semakin meningkat, tersedia dalam http://www.news.padek.co/detail/a/9820, diakses tanggal, 10/3 2015
[7] Jumlah
pengangguran terdidik di Indonesia semakin meningkat, tersedia dalam http://www.news.padek.co/detail/a/9820, diakses tanggal, 10/3 2015
[8]Hendro, Dasar-dasar Kewirausahaan Panduan bagi
Mahasiswa untuk Mengenal, Memahami, dan Memasuki Dunia Bisnis (Jakarta:
Erlangga, 2014), hlm. 5.
[9] Hendro, Dasar-dasar Kewirausahaan Panduan bagi
Mahasiswa untuk Mengenal, Memahami, dan Memasuki Dunia Bisnis (Jakarta:
Erlangga, 2014), hlm. 5-6.
[10] Hendro, Dasar-dasar Kewirausahaan Panduan bagi
Mahasiswa untuk Mengenal, Memahami, dan Memasuki Dunia Bisnis (Jakarta:
Erlangga, 2014), hlm. 5-6.
[11]Hendro, Dasar-dasar Kewirausahaan Panduan bagi
Mahasiswa untuk Mengenal, Memahami, dan Memasuki Dunia Bisnis (Jakarta:
Erlangga, 2014), hlm. 7-8
[12] Hendro, Dasar-dasar Kewirausahaan Panduan bagi
Mahasiswa untuk Mengenal, Memahami, dan Memasuki Dunia Bisnis (Jakarta:
Erlangga, 2014), hlm. 9-10
[13] Hendro, Dasar-dasar Kewirausahaan Panduan bagi
Mahasiswa untuk Mengenal, Memahami, dan Memasuki Dunia Bisnis (Jakarta:
Erlangga, 2014), hlm. 15
[14] Hendro, Dasar-dasar Kewirausahaan Panduan bagi Mahasiswa
untuk Mengenal, Memahami, dan Memasuki Dunia Bisnis (Jakarta: Erlangga,
2014), hlm. 15
[15] Hendro, Dasar-dasar Kewirausahaan Panduan bagi
Mahasiswa untuk Mengenal, Memahami, dan Memasuki Dunia Bisnis (Jakarta:
Erlangga, 2014), hlm. 17
[16] Hendro, Dasar-dasar Kewirausahaan Panduan bagi
Mahasiswa untuk Mengenal, Memahami, dan Memasuki Dunia Bisnis (Jakarta:
Erlangga, 2014), hlm. 17
[17] Hendro, Dasar-dasar
Kewirausahaan Panduan bagi Mahasiswa untuk Mengenal, Memahami, dan Memasuki
Dunia Bisnis, (Jakarta: Erlangga, 2014), hlm.184-185
[18] Hendro, Dasar-dasar Kewirausahaan Panduan bagi
Mahasiswa untuk Mengenal, Memahami, dan Memasuki Dunia Bisnis (Jakarta:
Erlangga, 2014), hlm.536-537
[19] Hendro, Dasar-dasar
Kewirausahaan Panduan bagi Mahasiswa untuk Mengenal, Memahami, dan Memasuki
Dunia Bisnis, (Jakarta: Erlangga, 2014), hlm.531
[20] Hendro, Dasar-dasar Kewirausahaan Panduan bagi
Mahasiswa untuk Mengenal, Memahami, dan Memasuki Dunia Bisnis (Jakarta:
Erlangga, 2014), hlm.532
[21] Yakob Tomatala, Spiritual Entrepreneurship, anda juga bisa
menjadi Entrepreneur Rohani (Jakarta: YT.Leadership Fondatioan 2010),
hlm.IV,V
Tidak ada komentar:
Posting Komentar